Ratusan pemedek dari berbagai daerah di Bali melakukan persembahyangan di Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Minggu (9/8). (BP/Istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Ratusan pemedek dari berbagai daerah di Bali mendatangi Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung di Desa Tangkas, Kecamatan Klungkung, Minggu (9/8). Kedatangan pasemetonan Tangkas Kori Agung tersebut sempat diwarnai ketegangan setelah mereka tertahan di depan pintu masuk pura yang ditutup karena masih berlangsungnya proses pembangunan.

Massa yang datang dengan mengenakan pakaian adat sembahyang itu sedianya hendak menggelar paruman agung untuk membahas pembangunan Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung. Mereka berharap pertemuan tersebut menghasilkan titik temu antara pasemetonan Tangkas Kori Agung se-Bali dengan pihak pengempon pura.

Sebelum menuju pura, massa berkumpul di kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) sekitar pukul 08.30 WITA. Setelah jumlah pemedek cukup banyak, mereka kemudian bergerak menuju Pura Tangkas Kori Agung.

Namun setibanya di lokasi, ratusan pemedek sempat tertahan di depan pintu masuk pura. Gerbang pura dalam kondisi tertutup.

Sejumlah spanduk juga terpasang di depan pura yang berisi larangan memasuki areal pura karena proses renovasi masih berlangsung.

Baca juga:  Saling Menguatkan, Warga Nusa Penida Bantu Anak Rantau Terdampak Covid-19

Situasi sempat memanas. Perwakilan pemedek terlibat adu argumen dengan pihak pengempon pura.

Di dalam areal pura terlihat puluhan pecalang bersama personel Dalmas Polres Klungkung bersiaga melakukan pengamanan.

Beruntung, ketegangan akhirnya mereda setelah kedua pihak melakukan komunikasi. Seluruh pemedek kemudian dipersilakan masuk ke areal pura untuk melaksanakan persembahyangan. Persembahyangan bersama tersebut tetap mendapat pengawalan pecalang dan aparat kepolisian.

Koordinator pemedek, Ida Bhawati Hermawan Tangkas, mengatakan kedatangan mereka bertujuan menggelar paruman agung. Menurutnya, sampai saat ini belum ada titik temu terkait pembangunan pura tersebut.

“Hari ini kami mencoba paruman agung dengan tujuan dapat titik temu (terkait pembangunan pura) dan dapat jadi acuan yang mengedepankan rasa pasemetonan (persaudaraan),” ujar Ida Bhawati Hermawan Tangkas.

Kapolres Klungkung, AKBP Mikael Hutabarat, turun langsung memantau pengamanan di lokasi. Dia mengatakan polisi melakukan pengamanan lantaran jumlah warga yang datang cukup banyak dan sebagian besar berasal dari luar Klungkung.

Baca juga:  Bupati Badung Hadiri Pecaruan dan Pemelaspasan di Pura Dadia Tangkas Kori Agung Gulingan

Disebutkan, pemedek yang hadir mencapai lebih dari 300 orang, di antaranya berasal dari Buleleng, Karangasem dan sejumlah daerah lainnya di Bali.

“Kita konsentrasi agar kegiatan berjalan lancar. Mengingat jumlah warga yang datang cukup banyak, maka kita lakukan floating anggota untuk mengatur arus lalu lintas dan perjalanan agar warga Klungkung juga tidak terdampak kegiatan ini,” kata Kapolres.

Kapolres menegaskan, kepolisian dalam kegiatan tersebut fokus menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan. Polisi juga melakukan pengaturan arus lalu lintas di sekitar lokasi untuk mengantisipasi kepadatan.

Sementara itu, Sekretaris Pasemetonan Pangeran Tangkas Kori Agung, Made Wijaya, menyebut dinamika yang terjadi di lapangan merupakan miskomunikasi. Menurutnya, dalam proses pembangunan Pura Tangkas Kori Agung terdapat berbagai masukan dan aspirasi dari warga pasemetonan.

Baca juga:  Dua Pelajar SMP Duel di Dekat RJ Bupati Klungkung

“Namanya pembangunan pura baru, ada masukan ini, ada masukan ini. Tentu harus diakomodir aspirasi mereka agar sama-sama jalan,” jelas Wijaya.

Menurutnya, seluruh aspirasi pasemetonan perlu dikelola dengan baik agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan hal-hal yang telah diatur dalam bisama.

Dari hasil rembug tersebut, disepakati akan digelar pertemuan lanjutan dengan melibatkan para tetua Tangkas Kori Agung se-Bali. Pertemuan tersebut akan membahas lebih lanjut terkait pembangunan Pura Pusat Kawitan Tangkas Kori Agung.

Mengenai gerbang pura yang ditutup, Wijaya mengatakan hal itu dilakukan karena pembangunan masih berlangsung. Selain itu, material bangunan masih berada di dalam areal pura sehingga penutupan dilakukan demi keamanan.

“Kedatangan pemedek ini juga bagus. Mereka melihat langsung pembangunan pura, sambil mereka sembahyang. Semua baik, ini kan semeton saya. Ada kekurangan dari saya, pengempon, dari mereka semua itu biasa karena kita semua saudara,” tandasnya. (Sri Wiadnyana/denpost)

BAGIKAN