
DENPASAR, BALIPOST.com – Provinsi Bali kembali dipercaya menjadi salah satu daerah percontohan nasional di bidang kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan Bali sebagai satu dari tiga provinsi yang melaksanakan perluasan program imunisasi Human Papillomavirus (HPV) bagi anak laki-laki pada 2026. Dua provinsi lainnya adalah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pelaksanaan program tersebut akan dilakukan mulai Agustus 2026, bertepatan dengan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), melalui koordinasi Kementerian Kesehatan bersama Pemerintah Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, serta Dinas Kesehatan kabupaten/kota se-Bali.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom, M.Kes., mengatakan Bali dipilih karena memiliki capaian imunisasi HPV pada anak perempuan yang tertinggi di Indonesia. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu indikator kesiapan Bali untuk memperluas cakupan imunisasi kepada anak laki-laki.
“Pelaksanaan imunisasi HPV pada anak laki-laki merupakan bagian dari upaya memperluas perlindungan terhadap penyakit yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV),” ujarnya, Kamis (6/8).
Ia menjelaskan, selama ini HPV lebih dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks pada perempuan. Namun, virus tersebut juga dapat menyebabkan berbagai penyakit serius pada laki-laki, seperti kanker anus, kanker penis, kanker orofaring atau kanker pada mulut dan tenggorokan, serta kutil kelamin.
Karena itu, baik laki-laki maupun perempuan memiliki risiko terinfeksi HPV yang dapat menurunkan kualitas hidup hingga menyebabkan kematian. Salah satu langkah pencegahan paling efektif adalah melalui imunisasi.
Program imunisasi HPV di Indonesia telah dimulai secara bertahap sejak 2016. Selanjutnya pada 2023, imunisasi HPV resmi menjadi program nasional dengan sasaran anak perempuan kelas V dan VI SD/MI/sederajat.
Kemudian, sejak 2025 pemerintah menerapkan pemberian satu dosis vaksin HPV, mengikuti rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Pada tahun yang sama juga dilaksanakan imunisasi kejar bagi anak perempuan kelas VI SD/MI yang belum menerima vaksin pada tahun sebelumnya, serta siswi kelas IX SMP/MTs/sederajat yang belum pernah mendapatkan imunisasi HPV.
Pada 2026, cakupan program diperluas dengan menyasar anak laki-laki kelas V SD/MI/sederajat di tiga provinsi terpilih.
Di Bali, jumlah sasaran imunisasi HPV tahun ini mencapai 29.818 anak laki-laki dan 28.573 anak perempuan. Seluruh siswa sasaran akan menerima pelayanan imunisasi melalui kegiatan BIAS yang dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan melibatkan tenaga kesehatan dari puskesmas, Dinas Kesehatan, pihak sekolah, serta dukungan orang tua.
Sementara itu, program imunisasi HPV bagi anak perempuan tetap berjalan sebagaimana sebelumnya sehingga perlindungan terhadap penyakit akibat HPV dapat diberikan secara merata kepada kedua kelompok sasaran.
Anom menegaskan bahwa vaksin HPV telah melalui berbagai penelitian ilmiah dan direkomendasikan oleh WHO maupun Kementerian Kesehatan RI sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang efektif untuk mencegah penyakit akibat infeksi HPV.
Selama pelaksanaan imunisasi, seluruh pelayanan dilakukan sesuai standar operasional dan prosedur keamanan. Selain pemberian vaksin, petugas kesehatan juga akan memberikan edukasi kepada siswa, guru, dan orang tua mengenai manfaat imunisasi, kemungkinan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), serta pentingnya melengkapi jadwal imunisasi.
Ia mengajak seluruh orang tua dan pihak sekolah untuk mendukung penuh pelaksanaan program tersebut sebagai investasi kesehatan jangka panjang bagi generasi muda.
Menurutnya, melalui perluasan imunisasi HPV kepada anak laki-laki, diharapkan semakin banyak anak di Bali yang terlindungi dari berbagai penyakit akibat infeksi HPV. Upaya ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas di masa mendatang. (Ketut Winata/balipost)


