Oka Rusmini. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sastrawan Oka Rusmini tampil beda dalam karya terbarunya, Kembang: Penggalian Kembali Trauma Sejarah. Buku ini menandai fase pendewasaan estetik sekaligus politis bagi penulis yang selama empat dekade konsisten membongkar konstruksi adat dan patriarki.

Ditemui di sela-sela kesibukannya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) pada Selasa (14/7), Oka, demikian dia akrab disapa mengaku tak lagi berkutat pada persoalan konstruksi adat dan patriarki. Ia mengaku tak lagi melontarkan kritik secara lantang melainkan “berbisik” di dapur dan lorong sejarah, menggali jasad ingatan perempuan yang terkubur oleh kuasa politik, agama, dan tradisi.

“Buku ini berbeda dari karya-karya sebelumnya yang mengangkat persoalan adat dan patriarki. Karya ini lebih mengarah pada sisi politis,” ungkap perempuan yang cukup lama berkecimpung dalam dunia jurnalisme ini.

Ia pun mengatakan Kembang akan diluncurkan serangkaian FSBJ 2026 di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya, Art Centre pada Selasa (21/7). Dalam peluncurannya akan digelar diskusi yang menghadirkan editor senior, Mirna Yulistianti dan penulis buku, Eka Kurniawan.

Baca juga:  Taufiq Tetap Main Game di Bandung

Mirna Yulistianti, editor senior Gramedia Pustaka Utama, menilai karya ini sebagai sebuah pencapaian yang sangat arsitektural. Menurutnya, Oka memperlakukan teks layaknya bangunan presisi yang dirancang dengan tata ruang bahasa efisien, fondasi mitologi-budaya yang kukuh, serta struktur elemen yang saling mengunci secara fungsional.

Alih-alih mengandalkan luapan emosi yang cair, Oka menyusun puisi melalui konstruksi rigid dan terukur. Setiap kata berfungsi sebagai pilar atau sekat untuk menciptakan ruang politis yang tajam.

Dengan presisi matematis, Oka tidak sekadar merangkai baris, tetapi mendesain bangunan makna yang stabil, berkarakter, dan memiliki beban naratif yang mendalam bagi pengungkapan pengalaman perempuan penyintas peristiwa 1965.

Jika karya-karya terdahulu bertumpu pada konflik terbuka dan pemberontakan terhadap adat serta norma sosial—Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014), Men Coblong (2019), Koplak (2019), dan Jerum (2020)—Kembang mengambil jalan yang lebih sunyi.

Baca juga:  Pelestarian Adat dan Budaya di Desa Adat Gelunggang

Buku ini adalah hasil dari proses “ekshumasi” atau penggalian kembali trauma sejarah, khususnya tragedi 1965, yang diendapkan dalam tubuh perempuan. Oka memandang sejarah Indonesia sebagai ruang patriarkis tempat pengalaman perempuan sering kali dihilangkan dari catatan.

Melalui pendekatan mikrosejarah (microhistory) yang intim, Oka menjahit fragmen keseharian para penyintas—Kaminah dan Kusdalini—menjadi narasi puitis yang viseral.

Oka menuturkan proses kreatif Kembang dipicu oleh perjumpaan emosionalnya dengan film dokumenter You and I (2020) karya Fanny Chotimah. Film tersebut merekam keseharian Kusdalini (1943–2017) dan Kaminah (1947–2018), dua perempuan penyintas 1965 yang menua bersama dalam kesahajaan di Solo.

Keintiman mereka, ditambah dorongan dari dokumenter A Secret Love karya Chris Bolan, buku foto Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik HS, serta berbagai literatur akademik, mendorong Oka membedah sisi retak sejarah tersebut. Oka mengakui bahwa penulisan buku ini merupakan ziarah intelektual yang menguras batin.

Baca juga:  Tinggi Bade Almarhum A.A. Niang Agung Raih Penghargaan Muri  

“Menulis Kembang bukan lagi sekadar urusan estetika. Saya harus menyatukan param, usia tua, tubuh yang rapuh, kesepian, kerupuk, param dan soto dengan tato arit serta jeruji. Saya tidak hanya menggugat budaya yang kasatmata, tetapi juga menggugat keheningan negara atas trauma sejarah,” ungkap Oka.

Secara estetik, Kembang menawarkan langgam baru yang dinamai Oka sebagai “Mistisisme-Domestik”. Gaya ini mengawinkan diksi arkaik yang magis, peribahasa usang, dan rima berakhiran digraf /ng/ dengan realitas ruang domestik yang amis sekaligus brutal.

Oka secara sadar membenturkan keindahan bunga (kenanga, melati, mawar) dengan anyir darah, bau ompol, kesepian, aroma soto panas, kerupuk, param, dan tubuh yang mulai sakit-sakitan. Peleburan ini sengaja dirancang untuk memicu guncangan batin antara wangi keindahan dan maut.

Judul Kembang adalah sebuah ironi tajam. Kembang adalah metafora bagi perempuan yang tetap tumbuh dan merekah di atas retakan sejarah yang kelam, meski dipaksa hidup dalam sunyi, stigma, dan penghapusan identitas. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN