
JAKARTA, BALIPOST.com – Juara bertahan Argentina kembali diuji dalam perburuan gelar Piala Dunia 2026. Kali ini, Lionel Messi dan kawan-kawan harus menghadapi Swiss yang dikenal memiliki pertahanan disiplin pada laga perempat final di Stadion Arrowhead, Kansas City, Minggu (12/7) pagi WIB.
Dilansir dari Kantor Berita Antara, di atas kertas, La Albiceleste lebih diunggulkan berkat kualitas individu para pemain serta ketajaman Lionel Messi. Namun, perjalanan tim besutan Lionel Scaloni menuju delapan besar belum sepenuhnya mulus.
Dalam dua laga fase gugur terakhir, Argentina dipaksa bekerja keras sebelum memastikan tiket ke perempat final.
Argentina harus melalui babak perpanjangan waktu untuk menaklukkan Tanjung Verde 3-2 pada babak 32 besar. Drama kembali terjadi di babak 16 besar saat mereka sempat tertinggal dua gol dari Mesir. Berkat gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez dalam 11 menit terakhir pertandingan, Argentina sukses membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2.
Kebangkitan dramatis tersebut memperlihatkan mental juara yang masih dimiliki Argentina. Namun, di sisi lain, laga itu juga mengungkap kelemahan mereka saat menghadapi serangan balik cepat lawan.
Messi tetap menjadi sosok sentral permainan Argentina. Kapten berusia 39 tahun itu tampil luar biasa dengan koleksi delapan gol sepanjang turnamen, sejajar dengan penyerang Prancis Kylian Mbappe di puncak daftar top skor. Total, Messi kini telah mengemas 21 gol sepanjang sejarah penampilannya di Piala Dunia.
Lionel Scaloni masih dihadapkan pada pilihan di lini depan. Julian Alvarez dipercaya sebagai starter saat menghadapi Mesir, tetapi Lautaro Martinez tampil impresif setelah masuk sebagai pemain pengganti dan memberikan energi baru ketika Argentina memburu kemenangan.
Di lini tengah, Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, dan Leandro Paredes dituntut tampil dominan. Penguasaan lini tengah menjadi kunci agar Argentina mampu memutus transisi cepat yang selama ini menjadi kekuatan Swiss.
Sementara itu, Swiss datang dengan kepercayaan diri tinggi usai mencatat sejarah lolos ke perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 72 tahun. Tim asuhan Murat Yakin melaju setelah menyingkirkan Kolombia melalui adu penalti 4-3, seusai bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.
Kekuatan utama Swiss terletak pada organisasi permainan yang rapi. Manuel Akanji menjadi pemimpin di lini belakang, Granit Xhaka mengatur ritme permainan di sektor tengah, sementara Gregor Kobel tampil solid di bawah mistar gawang.
Meski demikian, Swiss harus kehilangan salah satu pemain terbaiknya, Johan Manzambi, yang mengalami cedera lutut. Absennya pemain yang telah menyumbang tiga gol dan dua assist sepanjang turnamen menjadi kerugian besar bagi efektivitas serangan mereka.
Laga ini juga menjadi ulangan duel kedua tim pada babak 16 besar Piala Dunia 2014. Saat itu Argentina menang tipis 1-0 lewat gol Angel Di Maria di babak tambahan waktu. Dari pertemuan tersebut, hanya Messi, Granit Xhaka, dan Ricardo Rodriguez yang masih bertahan membela negaranya.
Argentina tetap lebih difavoritkan untuk melangkah ke semifinal berkat pengalaman serta magis Lionel Messi. Namun, jika kembali lengah dan gagal menjaga keseimbangan permainan, Swiss memiliki disiplin serta organisasi tim yang cukup kuat untuk memaksa pertandingan berlangsung hingga babak tambahan, bahkan adu penalti.
Pemenang laga ini akan menghadapi pemenang duel Inggris kontra Norwegia pada babak semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta. (Suka Adnyana/balipost)









