Australia akan menghadapi Mesir pada babak 32 besar di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Sabtu (4/7) dini hari WIB. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Setelah langkah Jepang terhenti di tangan Brasil, seluruh harapan Asia di Piala Dunia 2026 kini bertumpu pada Australia. Socceroos akan menghadapi Mesir pada babak 32 besar di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Sabtu (4/7) dini hari WIB, dalam duel yang diprediksi berlangsung ketat antara dua tim dengan karakter permainan pragmatis.

Dari sembilan wakil Asia yang tampil pada Piala Dunia 2026, hanya Jepang dan Australia yang mampu menembus fase gugur. Kini, setelah Samurai Biru tersingkir, Australia menjadi satu-satunya wakil Benua Kuning yang berpeluang menjaga asa Asia tetap hidup di panggung dunia.

Dilansir dari Kantor Berita Antara, pengalaman menjadi modal penting bagi tim asuhan Tony Popovic. Sejak bergabung dengan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 2006, Australia selalu lolos ke putaran final Piala Dunia dan sudah dua kali menembus fase gugur, yakni pada edisi 2006 dan 2022.

Baca juga:  Targetkan 1,4 Juta Wisatawan Australia, Tambahan Jadwal Penerbangan Perlu Dilakukan

Di atas kertas, Mesir memang sedikit lebih diunggulkan. Tim berjuluk The Pharaohs datang dengan materi pemain yang lebih mentereng, dipimpin bintang Liverpool Mohamed Salah dan penyerang Omar Marmoush. Mereka juga tampil konsisten sepanjang fase grup tanpa menelan kekalahan.

Secara statistik, Mesir lebih dominan hampir di semua aspek. Mereka mencatat rata-rata penguasaan bola 47 persen, menghasilkan nilai expected goals (xG) sebesar 3,76, serta melepaskan 48 tembakan dengan 13 di antaranya tepat sasaran. Sementara Australia hanya membukukan rata-rata penguasaan bola 33 persen, xG 1,99, dan menghasilkan 26 peluang dengan 11 tembakan mengarah ke gawang.

Australia justru menunjukkan kemampuan mengejutkan dengan menumbangkan Turki 2-0 pada fase grup, sekaligus membuktikan bahwa efektivitas lebih penting dibanding dominasi permainan. Bahkan Amerika Serikat pun harus bersusah payah mengalahkan Socceroos melalui gol bunuh diri dan gol yang baru disahkan VAR.

Baca juga:  Terkonfirmasi COVID-19, Pecatur Indonesia Harus Berhenti Bertanding di Piala Dunia Catur

Keberhasilan itu lahir dari pendekatan pragmatis khas Tony Popovic. Australia tidak berambisi menguasai bola, tetapi lebih memilih bertahan rapat dengan blok rendah, mengandalkan disiplin organisasi permainan, kekuatan fisik, dan melancarkan serangan balik cepat saat lawan kehilangan bola.

Peran bek sayap Jordan Bos, gelandang Jackson Irvine, hingga bek jangkung Harry Souttar yang kerap maju membantu serangan menjadi senjata utama dalam memanfaatkan ruang kosong di lini pertahanan lawan.

Di sisi lain, Mesir juga mengusung filosofi yang tak jauh berbeda. Tim besutan Hossam Hassan mengandalkan pertahanan solid sebelum melancarkan serangan cepat melalui kecepatan Mohamed Salah dan kreativitas Omar Marmoush. Situasi bola mati juga menjadi salah satu senjata mematikan mereka.

Baca juga:  Dikalahkan Vietnam, Futsal Putri Indonesia Raih Perak SEA Games 2025

Pertemuan ini diperkirakan menjadi duel kesabaran. Kedua tim sama-sama nyaman bermain tanpa banyak menguasai bola dan menunggu kesalahan lawan untuk menciptakan peluang emas.

Meski Mesir lebih difavoritkan berkat kualitas individu pemainnya, Australia memiliki modal pengalaman serta mental bertanding yang tidak bisa diremehkan. Jika mampu mempertahankan disiplin bertahan seperti saat mengalahkan Turki dan merepotkan Amerika Serikat, Socceroos berpeluang menciptakan kejutan sekaligus menjaga wajah Asia tetap bertahan di Piala Dunia 2026.

Laga ini bukan sekadar perebutan tiket ke babak 16 besar. Bagi Australia, pertandingan melawan Mesir menjadi misi besar untuk membuktikan bahwa sepak bola Asia masih mampu bersaing dengan negara-negara terbaik dunia, meski harus melakukannya lewat permainan sederhana, disiplin, dan efektif. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN