Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhang Zhisheng. (BP/Istimewa)

Oleh Zhang Zhisheng

Keberagaman peradaban merupakan ciri yang mendasar di seluruh dunia. Tiga tahun yang lalu, Presiden Xi Jinping meluncurkan Inisiatif Peradaban Global, yang memberikan arah bagi berbagai peradaban untuk hidup berdampingan dan berkembang bersama secara harmonis. Pada Juni 2024, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menetapkan tanggal 10 Juni setiap tahunnya sebagai “Hari Internasional Dialog Antar Peradaban”.

Menyambut peringatan “Hari Internasional Dialog Antar Peradaban” tahun ini, Tiongkok menyelenggarakan kegiatan bertema di Markas Besar PBB di New York. Anggota Politibiro Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok sekaligus Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyampaikan sambutan melalui rekaman video. Beliau menyatakan bahwa penetapan “Hari Internasional Dialog Antar Peradaban” merupakan langkah penting dalam mewujudkan Inisiatif Peradaban Global.

Kita harus senantiasa menjunjung sikap saling menghormati untuk mendorong berbagai peradaban hidup berdampingan secara harmonis; mengutamakan kepentingan manusia untuk memperkokoh landasan pertukaran antar peradaban; melestarikan warisan sekaligus melakukan pembaruan guna memperkuat daya dorong kemajuan peradaban; serta menjalin pertukaran dan saling mempelajari satu sama lain untuk menyempurnakan mekanisme dialog antar peradaban.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam sambutan tertulisnya menyampaikan bahwa dialog antar peradaban harus dijadikan sarana untuk mempererat persatuan serta mendorong terwujudnya dunia yang lebih adil dan damai. Sementara itu, Kepala Kantor untuk Presiden Sidang Majelis Umum PBB ke-80 Sofia Borges, menyampaikan atas nama Presiden Sidang Majelis Umum bahwa dialog antar peradaban merupakan kewajiban dan wujud nyata dalam menjunjung tinggi Piagam Perserikatan Bangsa – Bangsa.

Berbagai pihak menyampaikan apresiasi atas Inisiatif Peradaban Global yang diluncurkan Tiongkok serta kontribusi yang telah diberikan untuk memajukan dialog antar peradaban, dan sepakat bahwa pertukaran pemikiran akan memperkuat kesepahaman bersama, sehingga kita dapat bergandengan tangan mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Pada tanggal 17 Juni, Kantor Informasi Dewan Negara Tiongkok menerbitkan Buku Putih yang berjudul “Mewujudkan Sistem Tata Kelola Global yang Lebih Adil dan Berimbang: Gagasan, Inisiatif, dan Tindakan Tiongkok.” Di dalamnya diuraikan berbagai upaya yang telah dilakukan Tiongkok untuk saling mendorong pertukaran pembelajaran antar peradaban, yaitu: pertama, memperkuat kesepahaman bersama di tingkat internasional secara luas; kedua, membangun jaringan pertukaran antar peradaban; ketiga, meningkatkan pelestarian warisan budaya sekaligus mendorong pembaruan dan pengembangannya; serta keempat, mempererat saling pengertian dan hubungan persahabatan antar warga negara dari berbagai bangsa.

Tahun ini menandai peringatan ke-76 tahun berdirinya hubungan diplomatik antara Tiongkok dan Indonesia. Sejak terjalinnya hubungan tersebut, kerja sama kedua negara telah berkembang pesat, dan semangat persahabatan antara rakyat kedua bangsa telah mengakar kuat di hati masyarakat. Di bawah bimbingan strategis Presiden Xi Jinping dan Presiden Prabowo Subianto, kedua pihak terus mendorong perwujudan komunitas senasib sepenanggungan Tiongkok-Indonesia, serta membuka babak baru kerja sama yang berlandaskan pada “lima pilar utama”, yaitu bidang politik, ekonomi, hubungan antar manusia dan kebudayaan, kemaritiman, serta keamanan.

Baca juga:  Diburu Selama Dua Bulan, Akhirnya Perampok Ini Ditangkap

Hal ini membawa hubungan kedua negara ke tingkat yang lebih tinggi. Baik Tiongkok maupun Indonesia sama-sama merupakan negara besar yang sedang berkembang sekaligus anggota penting dari negara-negara di Selatan Global. Kedua negara memiliki kepentingan bersama yang luas serta landasan kerja sama yang kokoh.

Hubungan antara Tiongkok dan Indonesia memiliki pengaruh yang penting baik di wilayah kawasan maupun di kancah internasional, di mana upaya pelaksanaan modernisasi ala Tiongkok sangat selaras dengan visi “Indonesia Emas 2045”.

Hubungan persahabatan antara rakyat Tiongkok dan Indonesia telah terjalin sejak zaman dahulu. Kedua pihak senantiasa menjalin pertukaran yang erat dalam berbagai bidang, mulai dari politik, perdagangan dan ekonomi, kebudayaan, agama, hingga ilmu pengetahuan dan teknologi. Jejak pengaruh kebudayaan Tiongkok kuno masih dapat ditemukan hingga saat ini di Indonesia. Berbagai jenis makanan, unsur budaya, serta adat istiadat yang dibawa dari Tiongkok tidak lagi hanya dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa, melainkan telah menjadi warisan bersama masing – masing suku bangsa di Indonesia.

Perayaan Tahun Baru Imlek telah ditetapkan sebagai hari libur nasional resmi di Indonesia dan menjadi perayaan yang dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana kebudayaan Indonesia dan Tiongkok dapat menyatu secara selaras dan harmonis. Di Pulau Bali, kisah cinta antara seorang wanita asal Tiongkok bernama Kang Ching Wie dengan Raja Jaya Pangus masih diceritakan dan diwariskan hingga kini.

Bahkan di dalam kompleks Pura Besakih, terdapat satu bangunan khusus yang memiliki corak khas kebudayaan Tiongkok, yang secara jelas memperlihatkan hubungan yang erat dan mendalam antara kebudayaan Tiongkok dengan kebudayaan Pulau Bali.

Pulau Bali sebagai permata indah di Indonesia, telah lama menarik pengunjung dari berbagai belahan dunia berkat keindahan alamnya yang tiada tara serta kekayaan budayanya yang mendalam. Di pulau ini, berbagai unsur kebudayaan tumbuh berdampingan secara selaras, sekaligus tetap terbuka dan dinamis dalam menyambut arus globalisasi. Pemerintah Indonesia senantiasa memberikan perhatian besar terhadap pelestarian kebudayaan Bali dan telah memberikan kontribusi yang luar biasa dalam bidang ini.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Bali I Wayan Koster senantiasa menjaga, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya tradisional Bali, serta secara aktif mendorong pertukaran yang setara dan hidup berdampingan secara damai antar berbagai kebudayaan. Penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 yang sedang berlangsung saat ini telah menarik partisipasi kelompok kesenian dari berbagai negara, termasuk Tiongkok. Hal ini menjadi salah satu bukti nyata keberagaman budaya yang ada di Bali. Tiongkok menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas hal tersebut.

Baca juga:  Perayaan HUT ke-70 Republik Rakyat Tiongkok Berlangsung Meriah

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar secara aktif mendorong perluasan pertukaran antar manusia dan kebudayaan antara berbagai daerah serta instansi di Tiongkok dengan wilayah kerjanya yang meliputi Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Berbagai bidang yang didorong meliputi hubungan persahabatan antar provinsi dan antar kota, pariwisata, pelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup, pengajaran Bahasa Mandarin, kerja sama dalam bidang pendidikan kejuruan, kunjungan tim kesenian dan akademik secara timbal balik, serta pertukaran di bidang kuliner.

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar menyampaikan terima kasih atas dukungan yang telah diberikan oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia, serta pemerintah dan masyarakat ketiga provinsi tersebut.

Saat ini, perkembangan peradaban manusia menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sikap saling memisahkan diri dan pertentangan semakin memuncak, sementara berkurangnya rasa saling percaya terus mendalam. Sejarah dan kenyataan berulang kali membuktikan bahwa penyelesaian dengan kekerasan tidak akan memecahkan masalah apa pun, dan sikap sepihak pada akhirnya adalah jalan yang tidak akan membawa ke mana-mana.

Marilah kita gunakan dialog antar peradaban untuk mempererat saling pengertian serta menumbuhkan rasa saling percaya; menjalin pertukaran untuk memperkuat persatuan dan meraih kesepahaman bersama; serta mendorong pembentukan komunitas senasib sepenanggungan seluruh umat manusia melalui dialog dan pertukaran antar peradaban.

Kita harus senantiasa menjunjung sikap saling menghormati serta mendorong berbagai peradaban untuk hidup berdampingan secara harmonis. Tidak ada peradaban yang lebih tinggi atau lebih rendah derajatnya, karena semuanya merupakan warisan berharga bagi seluruh umat manusia. Kita perlu melampaui pandangan sempit yang menganggap adanya “pertentangan antar peradaban”, serta berkomitmen mewujudkan kehidupan bersama yang selaras di tengah keberagaman peradaban.

Tiongkok senantiasa berpegang teguh pada penyelesaian perselisihan dan pertikaian melalui jalur dialog serta perundingan, dan terus mendorong penyelesaian secara damai terhadap berbagai permasalahan yang menjadi sorotan dunia. Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran seharusnya tidak pernah terjadi.

Presiden Xi Jinping telah mengemukakan empat pokok pandangan dalam upaya menjaga dan memajukan perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah. Beliau menekankan pentingnya menjunjung prinsip hidup berdampingan secara damai, prinsip kedaulatan negara, prinsip hukum internasional, serta pendekatan yang menyatukan pembangunan dan keamanan secara seimbang.

Baca juga:  Sempat Dibilang 80 Orang, Segini Jumlah WN Tiongkok yang Dipulangkan Gunakan China Eastern

Hal ini memberikan landasan penyelesaian yang mendasar demi terwujudnya perdamaian dan kemajuan di kawasan tersebut. Situasi di Timur Tengah sangat memengaruhi kondisi dunia secara keseluruhan. Hal yang paling mendesak saat ini adalah agar semua pihak bersedia bertemu dalam satu tujuan, serta secara tegas melaksanakan gencatan senjata dan menghentikan peperangan untuk meletakkan dasar bagi terbentuknya sistem keamanan kawasan Timur Tengah yang berkelanjutan.

Kita harus senantiasa mengutamakan kepentingan manusia serta memperkokoh landasan pertukaran antar peradaban. Rakyatlah yang menjadi pencipta sejarah umat manusia, sekaligus menjadi pelaku utama dalam dialog antar peradaban. Kita perlu mendorong terjalinnya saling pengertian dan hubungan persahabatan antar warga negara dari berbagai bangsa, serta memastikan bahwa hasil pertukaran dan saling mempelajari antar peradaban dapat dinikmati secara lebih luas dan langsung oleh seluruh rakyat di dunia.

Tiongkok siap untuk mempererat dialog antar peradaban dengan negara-negara lain, memperdalam pertukaran pengalaman dalam penyelenggaraan pemerintahan, bersama-sama mencari solusi atas berbagai tantangan zaman, serta bergandengan tangan memperluas jalan menuju modernisasi bagi seluruh dunia.

Kita harus senantiasa melestarikan warisan budaya sekaligus melakukan pembaruan untuk memperkuat daya dorong kemajuan peradaban. Sebagai negara dengan kekayaan warisan budaya dunia yang melimpah, Tiongkok akan berupaya menjaga dan memanfaatkan warisan budayanya sendiri dengan sebaik-baiknya, serta turut membantu negara-negara lain dalam mengembangkan budaya tradisional unggul mereka melalui transformasi yang kreatif dan kemajuan yang inovatif.

Teknologi baru serta penerapannya, seperti kecerdasan buatan (AI) dan media sosial, telah membuka peluang baru bagi kemajuan dialog antarperadaban. Kita harus memanfaatkan sepenuhnya manfaat yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi tersebut guna mendorong kemakmuran bersama bagi seluruh peradaban umat manusia.

Kita harus senantiasa menjalin pertukaran dan saling mempelajari satu sama lain, serta menyempurnakan mekanisme dialog antar peradaban. Daya hidup suatu peradaban terletak pada keterbukaan dan pertukaran. Kita perlu secara aktif memperluas jaringan mitra dialog antar peradaban di seluruh dunia, serta menjadikan “Hari Internasional Dialog Antar Peradaban” sebagai momentum untuk membangun wadah komunikasi yang bebas dari prasangka perbedaan pandangan dan pemahaman.

Pihak Tiongkok mendukung peran penting yang dijalankan PBB dalam memajukan dialog antar peradaban. Kita siap bergandengan tangan dengan berbagai unsur masyarakat di Indonesia untuk mewujudkan Inisiatif Peradaban Global, terus memperdalam kerja sama kedua (antar) negara, mempererat ikatan persahabatan antar rakyat, serta senantiasa memperkaya makna komunitas senasib sepenanggungan Tiongkok – Indonesia sesuai perkembangan zaman untuk memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian dan stabilitas di kawasan ini maupun di seluruh dunia.

Penulis adalah Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar

BAGIKAN