Grafik ilustrasi pertandingan penyisihan Grup I Piala Dunia 2026 antara Norwegia dan Senegal yang dijadwalkan berlangsung di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Senin (22/6/2026) waktu setempat. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Penampilan timnas sepak bola Norwegia, yang untuk pertama kali sejak Piala Dunia 1998 masuk kembali putaran final Piala Dunia, mampu mempersatukan rakyat Norwegia.

Adalah pelatih Viking Stavanger, Morten Jensen, yang pertama menyampaikan klaim itu. Viking Stavanger adalah juara divisi utama liga sepak bola Norwegia.

Jensen, dikutip dari Kantor Berita Antara, mengatakan perjalanan indah Erling Haaland cs telah mempersatukan rakyat Norwegia, yang terbelah gara-gara krisis yang menimpa keluarga kerajaan itu.

Bagaimana tidak indah, perjalanan The Red, White and Blue memang membuat bangga seluruh negeri, termasuk lima hari lalu saat mengawali putaran final Piala Dunia 2026 dengan menerkam Irak 4-1.

Keberhasilan mereka telah mengalihkan perhatian 5,63 juta penduduk Norwegia dari masalah yang tengah menimpa anggota kerajaan mereka, walau mungkin untuk sejenak.

Sukses Martin Odegaard cs memenangkan seluruh dari delapan laga kualifikasi Piala Dunia zona Eropa mendatangkan bangga yang amat sangat dari rakyat Norwegia, apalagi dua kemenangan di antaranya diperoleh dari juara dunia empat kali, Italia.

Odegaard, Haaland, dan pemain-pemain asuhan pelatih Stale Solbakken adalah generasi emas sepak bola Norwegia yang membuat rekan-rekan sebangsanya yakin bahwa kali ini Norwegia akan melangkah lebih jauh dibandingkan tiga edisi Piala Dunia yang sebelumnya mereka ikuti. Mereka produktif, kuat, cepat, visioner, dan kompak.

Korban pertama mereka dalam Piala Dunia 2026 adalah Irak.

Berikutnya, pada Selasa (23/6) pukul 07.00 WIB, mereka diuji oleh Senegal dalam pertandingan Grup I di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat.

Baca juga:  Undian Piala Dunia 2026: Brasil dan Prancis Masuk “Grup Neraka”, Simak Daftar Lengkapnya

Tapi Senegal bukan mangsa sembarang mangsa. Profil tim Afrika ini jauh lebih keren ketimbang Irak, karena baru saja menjuarai Piala Afrika, yang gara-gara walkout dalam partai final, mesti menyerahkan trofi itu kepada Maroko.

Tak pelak lagi Senegal adalah ujian terbesar kedua Norwegia setelah Italia dalam babak kualifikasi.

Apalagi, Senegal pernah mengalahkan Norwegia dalam satu-satunya pertemuan di antara kedua tim, sebelum Piala Dunia 2026.

Ketika itu, pada Maret 2006, dalam laga persahabatan, Norwegia menyerah 0-2 akibat gol Moussa Ndiaye dan Babacar M’Baye Gueye.

Sama dengan Norwegia, barisan pemain yang tengah membela Senegal juga berasal dari generasi emas, yang empat tahun lalu mengantarkan Singa Teranga menjuarai Piala Afrika untuk pertama kalinya.

Sukses Senegal itu sendiri dibangun di atas filosofi bermain sepak bola yang menekankan disiplin, kekuatan fisik, dan transisi mematikan.

Sebaliknya sukses sepak bola Norwegia berpijak pada keyakinan bahwa sepak bola itu harus menyenangkan, yang dalam bahasa mereka disebut dengan idrettsglede.

Karena di bangun di atas kegembiraan itu, sepak bola Norwegia adalah sepak bola yang membebaskan tekanan, yang memungkinkan kreativitas, inisiatif, dan bakat individual berkembang, untuk kemudian menginspirasi dan menguatkan tim.

Representasi paling aktual untuk filosofi bermain semacam itu adalah Haaland dan Odegaard, yang selalu terlihat menikmati dan gembira atas peran yang diberikan pelatih kepada mereka.

Jika Haaland menjadi penghasil output terbaik dan terproduktif untuk sistem bermain Norwegia, maka Odegaard adalah mesin yang membuat sistem bermain The Lions bekerja efektif.

Baca juga:  Argentina Siap Bungkam Austria, Messi Tetap Jadi Sorotan

Odegaard adalah faktor terkuat yang membuat permainan Irak rusak berat, sehingga kebobolan empat kali, yang dua di antaranya dibuat oleh Haaland.

Delapan dari 62 umpan Norwegia, yang melewati hadangan pemain lawan (line-breaking pass), berhasil menembus pertahanan Irak. Separuh dari angka itu dibuat oleh Odegaard.

Oedgaard juga cuma gagal dalam 42 umpan yang dia lepaskan, tetapi menuntaskan semua dari 16 umpannya di sepertiga akhir lapangan.

Jadi, kunci agar sistem serangan Norwegia tak berakibat fatal bagi pertahanan Senegal adalah menjinakkan kapten timnas Norwegia itu, sehingga pasokan bola darinya kepada Haaland, Alexander Sorloth, atau lainnya, terhenti.

Sebaliknya, kunci menaklukkan Senegal adalah jangan membiarkan mereka bebas bermanuver untuk menekan dan menciptakan peluang.

Norwegia harus mematikan trio lapangan tengah mereka –Pape Gueye, Idrissa Gueye dan Lamine Camara– dengan permainan agresif seperti dilakukan Prancis pada babak kedua laga melawan Senegal itu.

Perubahan orientasi bermain lebih agresif yang diterapkan Prancis itu membuat Le Bleus mencetak tiga gol pada babak kedua. Sebaliknya, Senegal menjadi terpojok karena terus ditekan sehingga melupakan serangan.

Intinya, laga ini adalah jaminan untuk hadirnya pertarungan sengit di lini tengah. Siapa yang lebih superior di sini, maka dialah pemenangnya.

Tapi Senegal menjadi tim yang paling mungkin mengubah komposisi pemain, terutama karena Pape Thiaw membutuhkan pemain-pemain petarung sebagai starter.

Dia tidak akan merombak lini belakangnya walau tiga kali dijebol Prancis.

Baca juga:  5 Berita Terpopuler: Dari Sekda Badung Diperiksa hingga Sidang Lanjutan Jero Luwes

Dia lebih tertarik mengubah starternya di lapangan tengah dan depan, khususnya memainkan Ibrahim Mbaye dan Iliman Ndiaye sejak awal. Satu gol balasan Senegal ke gawang Prancis adalah hasil kerja sama kedua pemain ini.

Sebaliknya, Stale Solbakken kecil kemungkinan mengubah komposisi sebelas pemain pertama Norwegia yang sudah mempersembahkan tiga poin dan menghasilkan empat gol dalam Piala Dunia 2026 sejauh ini.

Mereka akan tetap bermain dalam struktur yang memfasilitasi Odegaard untuk bergerak leluasa di lapangan tengah, dan Haaland sebagai faktor teror utama untuk pertahanan lawan dalam pola 4-3-3, yang mungkin juga akan dipasang Pape Thiaw di Senegal.

Satu poin sudah cukup bagi Norwegia untuk menjejakkan satu kakinya di fase gugur, dengan catatan Prancis mengalahkan Irak.

Tapi Haaland cs pasti tak menginginkan hasil seperti itu. Mereka menuntut diri untuk mencapai kesempurnaan seperti mereka lakukan pada fase kualifikasi zona Eropa, apalagi lawan terakhir mereka Prancis. Lagi pula ini akan membuat Norwegia makin melupakan kasus arsip Epstein.

Sedangkan Senegal  dituntut menang walau memiliki kemungkinan besar untuk mengalahkan Irak dalam laga terakhir mendatang, sehingga minimal lolos ke fase gugur sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Imbang menjadi hasil yang lebih masuk akal bagi kedua tim, tetapi jika harus ada pemenang untuk pertandingan ini, maka skor yang terpampang di papan skor akan terjadi dalam selisih yang tipis. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN