
DENPASAR, BALIPOST.com – Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah menjadi bukti nyata toleransi dan kebersamaan di Pulau Dewata. Semangat persaudaraan ini tercermin lewat tradisi “ngejot” yang diselenggarakan umat muslim pada umat Hindu.
Bahkan, daging kurban juga berasal dari warga Hindu, seperti yang dilakukan oleh Persaudaraan Hindu Muslim Bali (PHMB).
Menurut Ketua Persaudaraan Hindu Muslim Bali, Anak Agung Ngurah Agung Satriya Gerenceng, Rabu (27/5), rasa persaudaraan yang terjalin antara umat Hindu dan Muslim di Bali sangat kuat. Ini tercermin dalam pelaksanaan Iduladha yang identik dengan penyembelihan kurban.
Dalam rangkaian Iduladha 1447 Hijriah, pihaknya menyerahkan bantuan kurban pada Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Bali.
“Di sini, di LDII, persaudaraan kita sangat kental. Setiap daging kurban yang ada di Bali, khususnya di LDII, akan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Siapa saja yang datang dan membutuhkan akan dikasih, yang penting tertib,” ujarnya.
Ia mengutarakan tradisi kurban ini memiliki kemiripan nilai dengan tradisi lokal di Bali. “Jika umat Hindu di Bali memiliki ritual kurban pada setiap hari raya mereka, umat Muslim pun memiliki hari kurban yang baik melalui Hari Raya Iduladha,” ungkap Ngurah Agung dalam keterangan tertulisnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga Bali dengan konsep Menyama Braya (persaudaraan tanpa memandang perbedaan). Menurutnya, Bali adalah rumah bersama yang bertaraf internasional, di mana toleransi tidak hanya dijalankan antar-suku bangsa di Indonesia, melainkan juga dengan warga asing yang tinggal di Bali.
“Orang Muslim, Kristen, maupun warga luar di Bali, mereka menganggap Bali adalah rumah mereka. Makanya, mereka tetap ikut menjaga kerukunan antarumat beragama dan menjaga lingkungan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Provinsi Bali, H. Olih Solihat Karso, menegaskan esensi dari ibadah kurban yang dilakukan adalah wujud kepedulian yang menyasar seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang suku, ras, maupun agama.
“Kami menerima dan menyerahkan daging kurban kepada masyarakat yang membutuhkan di Provinsi Bali, tanpa memandang suku, agama, dan lain-lain,” ungkapnya.
Hingga saat pelaksanaan, pihak panitia LDII Bali mencatat telah menerima permintaan daging kurban dari masyarakat luas dengan total mencapai lebih dari 10.000 paket.
Salah satu hal yang unik dan konsisten dijalankan dalam pembagian daging kurban oleh LDII di Bali adalah penerapan tradisi Ngejot. Tradisi lokal ini merupakan kegiatan saling berbagi makanan atau hasil bumi kepada tetangga serta kerabat lintas keyakinan sebagai simbol perekat silaturahmi.
Ia menjelaskan bahwa tradisi kearifan lokal ini senantiasa dihidupkan di setiap lingkungan tempat tinggal warga LDII di Bali guna terus memupuk rasa persaudaraan dan toleransi antarumat beragama.
Olih mengatakan penyembelihan hewan kurban pada tahun ini sebanyak 146 ekor sapi dan 286 ekor kambing. Untuk di Denpasar, jumlahnya mencapai 15 ekor sapi dan 36 ekor kambing.
“Melalui pelaksanaan Iduladha ini, kami berharap esensi kurban dapat memberikan manfaat kesejahteraan pangan yang nyata bagi warga yang membutuhkan sekaligus mengokohkan Bali sebagai rumah bersama yang rukun dan damai,” harapnya. (kmb/balipost)



