
DENPASAR, BALIPOST.com – Situasi global yang penuh tantangan di tengah meningkatnya eskalasi antara AS dengan Iran, menimbulkan gejolak harga sejumlah material untuk pembuatan gawai. Kondisi ini pun menyebabkan terjadinya kenaikan harga gawai, salah satunya produk keluaran Apple.
Bahkan, kini ada tren baru di kalangan pengguna smart device Apple, terutama iPhone, yang memilih melakukan tukar tambah (trade-in) untuk mendapatkan produk keluaran terbaru. Kondisi ini pun diakui salah satu pelaku usaha yang memegang lisensi penjualan produk (reseller authorised) Apple di Bali Nusra, Malika Jiwaji.
Ditemui saat persiapan Grand Re-opening eWorld by Cellular World, Malika mengatakan kenaikan harga chipset hingga nilai tukar dollar yang tinggi menyebabkan kenaikan harga pada gawai, salah satunya HP. Pembeli pun kini memilih melakukan trade-in karena harga jual ponsel lama juga terdongkrak naik.
“Kecenderungan trade-in itu mencapai 40 persen dari total penjualan. Jadi cukup banyak pengguna yang memilih trade-in saat membeli iPhone seri terbaru dengan pertimbangan harga jual kembali yang baik,” kata Malika yang bekerja sama dengan tiga distributor resmi Apple di Indonesia.
Kelangkaan chipset dunia dan fluktuasi nilai tukar dolar diperkirakan akan memicu kenaikan harga ponsel dalam waktu dekat, sehingga ia menyarankan agar konsumen bisa melakukan pembelian segera jika memang membutuhkan.
“Kalau di industri smart device, umumnya ada kontrak harga yang berlaku 3 bulan. Sehingga ketika harga dollar naik, harga device tidak serta merta naik karena kontrak nilai tukar dollar itu. Kenaikan harga akan terjadi setelah kontrak itu berakhir atau ada penyesuaian dalam nilai tukar,” papar perempuan yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam bisnis penjualan gawai ini.
CEO Cellular World ini pun menyarankan agar pengguna tidak menunda-nunda untuk melakukan upgrade, terutama bagi mereka yang memprioritaskan performa untuk penggunaan AI (Artificial Intelligence) yang kini semakin masif.
“Kebutuhan akan AI sangat tinggi, dan itu memakan memori (RAM) yang besar. Kami menyarankan pelanggan untuk tidak menunggu lebih dari dua tahun jika ingin melakukan tukar tambah, agar selisih harga jual perangkat lama (second) tidak jatuh terlalu dalam,” tutup Malika.
Ditambahkan CCO Cellular World, Ni Wayan Yuliani, untuk menyiasati kondisi global yang makin sulit, pihaknya menyasar generasi muda dan mereka yang selalu mengikuti tren.
Hal ini juga yang mendasari dilakukannya re-opening dengan mengubah desain toko menjadi lebih lifestyle. Beberapa produk yang menjadi primadona, antara lain iPhone 17 Pro, Pro Max dengan varian warna terbaru seperti Silver dan Orange, serta iPhone 15.
Untuk membantu konsumen tetap bisa memiliki perangkat impian, pihaknya menghadirkan program trade-in, potongan harga hingga Rp1,5 juta melalui bank rekanan, pembiayaan fleksibel melalui kerja sama dengan leasing, dan Expro yang memberikan Perlindungan tambahan untuk perangkat (termasuk iPhone, Apple Watch, hingga TV) di mana konsumen hanya perlu membayar biaya risiko sebesar 5 persen jika terjadi kerusakan. (Diah Dewi/balipost)










