Layar menunjukkan grup-grup yang dipamerkan pada akhir Pengundian Final Piala Dunia FIFA 2026 di Kennedy Center di Washington D.C., Amerika Serikat, Jumat (5/12/2025). (BP/Dok. Xinhua)

JAKARTA, BALIPOST.com – Ketegangan politik merambah dunia sepak bola setelah Iran melontarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat terkait wacana mengganti posisi mereka di Piala Dunia dengan Italia. Melalui Kedutaan Besarnya di Italia, Iran menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “kebangkrutan moral”.

“Sepak bola adalah milik rakyat, bukan politisi. Italia meraih kejayaan di lapangan, bukan dari keuntungan politik,” tegas pernyataan resmi kedutaan Iran dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  FIFA Sebut Piala Dunia Tak Ditunda di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Mereka juga menyindir bahwa upaya menyingkirkan Iran justru menunjukkan ketakutan terhadap kekuatan tim muda mereka.

Wacana ini mencuat setelah utusan khusus AS, Paolo Zampolli, mengusulkan agar Timnas Italia menggantikan Timnas Iran di ajang Piala Dunia mendatang. Usulan tersebut muncul di tengah ketegangan diplomatik antara AS dan sejumlah negara Barat.

Namun, pihak Italia sendiri tidak sejalan dengan gagasan tersebut. Presiden Komite Olimpiade Italia, Luciano Buonfiglio, menilai ide itu sebagai sesuatu yang menyinggung prinsip sportivitas. Ia menegaskan bahwa tiket ke Piala Dunia harus diperoleh melalui perjuangan di lapangan, bukan keputusan politik.

Baca juga:  Real Madrid Ditumbangkan Celta Vigo di Bernabeu

Situasi ini semakin menarik perhatian setelah laporan menyebut Presiden AS, Donald Trump, tengah mendorong “diplomasi sepak bola” guna memperbaiki hubungan dengan sekutu NATO, termasuk Italia.

Ironisnya, Italia sendiri gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun usai takluk dari Bosnia dan Herzegovina pada 31 Maret lalu. Hal ini membuat wacana penggantian semakin menuai kontroversi, karena bertentangan dengan prinsip dasar kompetisi.

Baca juga:  Demokrat Minta Bupati Beri Sanksi ke Tujuh OPD

Polemik ini menegaskan bahwa sepak bola, yang seharusnya menjadi ajang persatuan, masih kerap terseret kepentingan politik global memicu perdebatan sengit antara nilai sportivitas dan manuver diplomasi. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN