Kopi robusta
Petani saat sedang mengeringkan kopi robusta Pupuan. (BP/dok)

SINGASANA, BALIPOST.com – Musim hujan berkepanjangan yang terjadi sepanjang 2025 berdampak pada sektor pertanian di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Petani di wilayah tersebut harus menelan kerugian akibat anjloknya produksi kopi serta gagalnya panen komoditas buah unggulan, seperti durian dan manggis.

Dampak paling terasa terjadi di Desa Munduktemu, yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Curah hujan tinggi menyebabkan tanaman gagal berbunga dan berbuah, sehingga hasil panen tahun 2026 merosot drastis.

Salah seorang petani asal Banjar Munduktemu Kelod, Desa Munduktemu, Dewa Made Darsana, Minggu (19/4), mengatakan, hampir seluruh petani di wilayahnya mengalami kondisi serupa. Menurutnya, hujan yang turun hampir sepanjang tahun lalu membuat bunga tanaman rontok sebelum sempat menjadi buah.

Baca juga:  Bali Timur dan Selatan Masih Berpotensi Hujan

“Awal tahun ini praktis tidak ada musim durian dan manggis. Semua gagal berbunga karena pengaruh hujan yang terlalu panjang,” ujarnya.

Tidak hanya komoditas buah, tanaman kopi juga terdampak serius. Biasanya, kopi mulai memasuki masa panen pada pertengahan tahun. Namun, kali ini produktivitasnya menurun tajam lantaran tanaman tidak mengeluarkan bunga maupun tunas cabang produksi baru.

Kondisi tersebut, menurut Darsana, memaksa petani menunggu hingga satu tahun ke depan untuk memulihkan produktivitas tanaman. “Cabang produksinya berkurang drastis. Kemungkinan harus menunggu sampai tahun depan agar kembali normal,” katanya.

Baca juga:  Perkuat Kedekatan dengan Wong Cilik dan Anak Muda, Puan: Tak Cukup Modal Teriak 'Merdeka'

Kerugian yang dialami petani terlihat dari penurunan hasil panen yang sangat signifikan. Dari lahan kopi seluas satu hektare yang biasanya mampu menghasilkan sekitar 15 kuintal, tahun ini hanya mampu memproduksi sekitar 5 kuintal.

“Penurunannya sangat drastis. Saya sendiri mengalami di lahan seluas dua hektare,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Perbekel Munduktemu, I Gusti Made Arsana. Ia menegaskan curah hujan tinggi sepanjang 2025 menjadi faktor utama kegagalan pembuahan pada sejumlah komoditas andalan masyarakat. “Musim hujan terlalu panjang, sehingga kopi, durian, dan manggis tidak berbuah seperti biasanya,” jelasnya.

Menurut Arsana, sekitar 80 persen masyarakat Desa Munduktemu bergantung pada pertanian kopi, sementara sekitar 30 persen lainnya juga mengelola tanaman buah. Karena itu, gagal panen kali ini berdampak langsung terhadap perputaran ekonomi warga.

Baca juga:  Taman Tugu Singasana Dibangun Bertahap

Petani, kata dia, kini lebih banyak mengeluarkan biaya untuk pemeliharaan tanaman dibandingkan hasil yang diperoleh saat panen. Kondisi tersebut membuat sebagian besar petani harus menanggung kerugian. “Praktis tahun ini petani merugi karena biaya perawatan lebih besar daripada hasil panen,” tegasnya.

Meski demikian, para petani masih menaruh harapan pada perubahan cuaca tahun ini. Dengan mulai masuknya musim kemarau, pertumbuhan tanaman disebut mulai membaik dan diharapkan dapat kembali berproduksi pada akhir 2026 atau awal 2027. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN