Wisatawan menikmati liburan di Sanur. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perayaan Hari Raya Nyepi dan Lebaran 2026 yang waktunya berdekatan 19-20 Maret diperkirakan menciptakan dinamika ekonomi yang unik, khususnya bagi Bali dan Indonesia secara umum. Kombinasi antara masa hening Nyepi dan puncak konsumsi saat Lebaran dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor jika dikelola dengan baik.

Pemerhati ekonomi dan bisnis dari Universitas Udayana, Dr. Putu Krisna Adwitya Sanjaya, S.E., M. Si. Di Denpasar menerangkan, momentum mudik Lebaran misalnya, tidak hanya menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia, tetapi juga berperan sebagai penggerak ekonomi daerah. Arus mudik mendorong perputaran uang dari kota-kota besar menuju daerah, sehingga memacu aktivitas sektor transportasi, jasa, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa-desa.

Baca juga:  Badan Karantina Pertanian Pastikan Bahan Pokok Lebaran Cukup

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun pekerja sektor swasta untuk mendukung mobilitas masyarakat selama libur panjang Nyepi dan Idul Fitri 2026. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperpanjang masa liburan masyarakat dan memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata serta ekonomi nasional.

Di sisi lain, Krisna Adwitya menilai kedekatan dua hari besar keagamaan ini juga menunjukkan nilai toleransi sosial yang kuat. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) mengedepankan konsep Pawongan sebagai pendekatan untuk menjaga harmoni antara umat Hindu dan Muslim dalam merayakan Nyepi dan Idul Fitri secara berdampingan. Konsep ini menekankan pentingnya hubungan antar manusia dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dari sisi ekonomi di Bali, Hari Raya Nyepi memang menghentikan seluruh aktivitas selama 24 jam. Selama periode tersebut, aktivitas bisnis seperti toko, pusat perbelanjaan, hingga bandara berhenti beroperasi, sehingga perputaran uang secara langsung juga terhenti sementara,” katanya Senin (16/3).

Baca juga:  Konsumsi Listrik Saat Nyepi dan Idulfitri Diprediksi Turun

Namun demikian, menjelang Nyepi justru terjadi peningkatan aktivitas ekonomi, terutama pada sektor budaya dan ekonomi kreatif. Tradisi pembuatan ogoh-ogoh serta persiapan upacara keagamaan mendorong perputaran dana yang diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah di berbagai daerah di Bali.

Selain dampak ekonomi, Nyepi juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan. Selama perayaan Nyepi, penggunaan listrik di Bali dapat berkurang hingga sekitar 60 persen dan tingkat polusi udara menurun signifikan. “Kondisi ini memberikan nilai tambah bagi keberlanjutan pariwisata Bali yang mengandalkan kualitas lingkungan,” ujarnya.

Baca juga:  Delapan Atlet Renang Bali Tembus PON 2020

Sementara itu, perayaan Idul Fitri memberikan stimulus ekonomi yang besar melalui lonjakan konsumsi masyarakat. Masyarakat cenderung meningkatkan belanja untuk kebutuhan makanan, pakaian, serta berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya menjelang Lebaran.

Menurut Krisna, momentum libur panjang juga turut mendorong sektor pariwisata dan transportasi. Okupansi hotel diperkirakan meningkat hingga sekitar 9 persen, seiring dengan meningkatnya mobilitas wisatawan domestik yang memanfaatkan periode libur Lebaran.

Dengan demikian, kombinasi Nyepi dan Idul Fitri pada 2026 dinilai mampu memberikan dampak ekonomi yang saling melengkapi. Nyepi menghadirkan momentum refleksi dan keberlanjutan lingkungan, sementara Idul Fitri menjadi pendorong utama perputaran uang dan konsumsi masyarakat secara nasional. (Suardika/balipost)

BAGIKAN