Ogoh-ogoh berjudul Adhikara Grahana garapan ST Dharma Bhakti Banjar Tampak Karang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti saat dinilai oleh tim juri, Sabtu (14/3). (BP/Istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh berjudul Adhikara Grahana garapan ST Dharma Bhakti Banjar Tampak Karang, Desa Apuan, Kecamatan Baturiti keluar sebagai juara pertama dalam penjurian Festival Ogoh-Ogoh Singasana III Tahun 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tabanan.

Penjurian berlangsung di Taman Bung Karno, Sabtu (14/3), setelah para juri melakukan pengamatan langsung terhadap seluruh karya yang ikut dalam festival.

Sedangkan untuk posisi juara kedua diraih ogoh-ogoh Ngerjeg Bhoma Palatra karya ST Tri Wikrama Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, Kecamatan Tabanan. Sementara Kunti Seraya garapan STT Permata Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri menempati posisi ketiga.

Salah satu juri, I Gede Arum Gunawan, menjelaskan penilaian di tingkat kabupaten menitikberatkan pada beberapa aspek utama, yakni detil anatomi, aksesoris, serta harmonisasi warna. Selain itu, unsur keatraktifan juga menjadi pertimbangan karena ogoh-ogoh merupakan karya seni rupa tiga dimensi yang dapat dinikmati dari berbagai sisi.

Baca juga:  Tari Bali dan Yoga Perhalus Jiwa dan Karakter Berbudi Luhur

Menurutnya, tim juri cukup kesulitan menentukan penilaian karena seluruh peserta telah menampilkan ide dan karya yang baik. Namun, ogoh-ogoh yang dinilai paling menonjol adalah karya yang mampu menarik perhatian penonton dari setiap sudut pandang.

Ia juga mendorong generasi muda untuk lebih menggali ide dari kisah-kisah tradisi Bali yang belum banyak diangkat. Dengan demikian, karya ogoh-ogoh yang dibuat dapat menampilkan nilai originalitas, sekaligus tetap memperhatikan pakem tradisi seperti warna, aksesoris, gelungan, serta karakter tokoh yang jelas antara unsur dharma dan adharma.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Tabanan, I Made Subagia, mengaku bangga dengan karya para peserta karena merupakan hasil kreativitas undagi (perajin) lokal Tabanan. Festival ini, kata dia, menjadi ruang bagi para undagi untuk menyalurkan kreativitas dan diharapkan ke depan mampu bersaing dengan daerah lain.

Baca juga:  Semarakkan HUT ke-72 RSUD dan HUT ke-532 Kota Singasana, Singasana Fun Run 5K Digelar

Terkait dua kecamatan yang hanya mengirimkan satu peserta, yakni Selemadeg Barat dan Pupuan, Subagia menjelaskan hal itu karena bertepatan dengan agenda lain seperti upacara Tumpek Wayang dan parade di wilayah masing-masing.

Ia menambahkan, penyediaan tenda ogoh-ogoh sebagian besar dilakukan secara mandiri oleh peserta. Dinas Kebudayaan hanya memberikan subsidi untuk tenda bagian belakang. Ke depan, hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi, termasuk kemungkinan penyeragaman fasilitas dan pola kepesertaan festival.

Tentang Ogoh-ogoh Adhikara Grahana, karya ini menceritakan asal-usul Sang Rahwana. Kisah dimulai dari Dewi Sukesi, putri Ida Bhagawan Semali yang suci, yang kemudian menikah dengan Ida Bhagawan Wisrawa. Sebelumnya Wisrawa telah menikah dengan Dewi Ilawati dan memiliki putra bernama Sang Kuwera, Dewa Kemakmuran, yang memerintah di Alengka dengan pasukan raksasa yang kuat.

Baca juga:  Sekolah di Tabanan Tidak Libur, Cuma Ini yang Ditiadakan

Dari pernikahan Wisrawa dan Dewi Sukesi lahirlah Sang Rahwana. Rahwana kemudian menjalani tapa yoga yang panjang dan sungguh-sungguh. Dalam perjalanan tapanya, ia bertemu Kapi Raja Subali dan bersama-sama memohon anugerah kepada Ida Sang Hyang Siwa.

Setelah memperoleh anugerah tersebut, Rahwana berhasil menguasai pasukan raksasa Alengka, mengusir Sang Kuwera, dan akhirnya menjadi Raja Alengka. Peristiwa ini menjadi awal kisah besar tentang perebutan kekuasaan yang dikenal dengan nama Adhikara Grahana, yang bermakna pergantian kekuasaan. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN