Suasana pelaksanaan edukasi keuangan yang melibatkan pelajar SMP di Depok. (BP/Istimewa)

JAKARTA, BALIPOST.com – Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024, kelompok pelajar dan mahasiswa hanya memiliki indeks literasi keuangan sebesar 56,42 persen, yang termasuk dalam kategori rendah. Indeks ini mencakup parameter seperti pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku terkait keuangan.

Di sisi lain, generasi muda kini tumbuh di tengah ekosistem keuangan digital yang semakin kompleks, dengan kemudahan akses layanan keuangan, termasuk dompet digital, yang berpotensi menimbulkan risiko jika tidak dibarengi pemahaman yang memadai.

Menurut Certified Financial Planner (CFD), Dewi R.D. Amelia, perlu edukasi holistik untuk meminimalkan risiko finansial seiring rendahnya literasi keuangan ini. Keterlibatan orangtua dan sekolah menjadi modal penting dalam peningkatan literasi keuangan ini.

Ia pun menekankan bahwa pengelolaan keuangan tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh kebiasaan dan keputusan finansial yang diambil sehari-hari. “Mengelola uang dimulai dari praktik sederhana, seperti memahami ke mana uang kita digunakan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyiapkan perlindungan keuangan,” jelas Dewi dalam keterangan tertulisnya.

Baca juga:  Wright Partners and Fairatmos to Create Innovative Businesses Tackling Climate Change

Dikatakan Dewi, keputusan-keputusan kecil, mulai dari cara menentukan prioritas, menabung, hingga merencanakan tujuan, akan sangat menentukan rasa aman dan ketenangan di masa depan. “Oleh karena itu, literasi keuangan perlu dibangun secara praktis, relevan, dan dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” lanjutnya dalam seminar literasi keuangan orangtua dan siswa bertajuk “Kelola Uang Hari Ini, Aman Esok Hari” yang diselenggarakan di Depok.

Dalam upaya membangun edukasi secara holistik ini, JA SparktheDream tahun keempat melakukan pendekatan dengan menempatkan keluarga, sekolah, dan pelaku usaha jasa keuangan sebagai satu ekosistem pembelajaran keuangan yang saling terhubung. Edukasi keuangan diberikan lebih dari 2.300 siswa sekolah menengah pertama di Jakarta hingga Denpasar. Kegiatan akan berlangsung hingga November 2026.

Baca juga:  Lahirkan Narasi Energi Konstruktif dan Humanis, EPN Gelar Pena Petrofin Awards

Menurut praktisi finansial, Rudy F. Manik, di era digital ini anak-anak semakin cepat terpapar pada berbagai pilihan finansial beserta risiko yang menyertai. Rudy yang merupakan Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance mengatakan pihaknya sudah berhasil menjangkau hampir 6.000 siswa sejak 2023. “Kami ingin menghadirkan pembelajaran yang semakin relevan dengan realita mereka, sekaligus melibatkan orangtua dan sekolah sebagai satu ekosistem,” jelasnya.

Ia percaya, literasi keuangan yang dipraktikkan sejak dini di rumah dan sekolah akan menjadi fondasi penting bagi generasi muda untuk mengambil keputusan finansial yang lebih bijak di masa depan.

Baca juga:  Ribuan Siswa dan Guru di Flores Diberi Penguatan Literasi Digital

Ditambahkan Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia (PJI), edukasi literasi keuangan secara holistik dilakukan dengan empat sesi pembelajaran di kelas menggunakan metode yang interaktif, memadukan sesi kelas, platform pembelajaran daring, serta aktivitas rumah bersama keluarga sebagai bagian integral dari proses belajar.

“Partisipasi guru kami rancang sebagai proses penguatan kapasitas jangka panjang. Melalui program ini, guru memperoleh bekal metodologi, materi, dan pendekatan pembelajaran yang dapat dikembangkan dan diadaptasi ke dalam kurikulum literasi keuangan di sekolah secara berkelanjutan,” kata Utami. (kmb/balipost)

BAGIKAN