
LUMAJANG, BALIPOST.com – Gunung Semeru erupsi disertai awan panas guguran dengan lontaran sejauh 4 kilometer dari puncak Mahameru pada Jumat sore (9/1).
“Terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 4.000 meter dan erupsi masih berlangsung saat laporan sedang dibuat,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dikutip dari Kantor Berita Antara.
Jarak luncur awan panas guguran tersebut dikabarkan berhenti pada jarak 5 kilometer dari puncak berdasarkan CCTV yang dipantau oleh petugas pada pukul 16.01 WIB.
Menurutnya, erupsi Gunung Semeru terjadi pada pukul 15.13 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati kurang lebih 2.000 meter di atas puncak (5.676 meter di atas permukaan laut).
“Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah utara dan timur laut. Erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sementara sekitar 19 menit 52 detik,” tuturnya.
Saat ini, Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga), sehingga pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi yakni masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Masyarakat juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan. (kmb/balipost)









