Areal parkir fast boat di sekitar Pelabuhan Rakyat Sampalan, Nusa Penida, tampak lengang. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Wabah COVID-19 sangat berdampak bagi pariwisata Bali, tidak terkecuali Nusa Penida. Wilayah berupa tiga gugusan pulau itu kian sepi dengan tingkat kunjungan wisatawan mancanegara di titik terendah pada 2020. Ini persis terjadi sepekan menjelang hari raya Nyepi.

Situasi ini tak terbantahkan, setelah mencermati data kunjungan wisatawan dari delapan Pos Pemungutan di Nusa Penida mulai dari Sampalan, Segening, Buyuk, Banjar Nyuh I, Banjar Nyuh II, Toya Pakeh, Jungut Batu hingga Lembongan.

Data terbaru yang dirilis Dinas Pariwisata Klungkung, pada Selasa (17/3) tercatat 341 orang wisatawan dengan pendapatan Rp 8.525.000. Terbanyak wisman masuk dari Pos Banjar Nyuh I yaitu 160 orang, Pelabuhan Buyuk 57 orang, Sampalan 50 Orang, Toya Pakeh 37 orang dan Banjar Nyuh II 28 orang. Sementara dari Pos Jungut Batu dan Lembongan tidak ada lagi kunjungan wisman.

Sementara data kunjungan per 16 Maret sebanyak 513 orang dengan pendapatan Rp 12.795.000, pada 15 Maret 470 orang dengan nilai pendapatan Rp 11.730.000, pada 14 Maret 527 orang pendapatannya Rp 13.145.000, pada 13 Maret 566 orang pendapatannya Rp 14.150.000, pada 12 Maret 671 orang pendapatannya Rp 16.735.000 dan pada 11 Maret 599 orang dengan pendapatan Rp 14.975.000.

Baca juga:  Kendaraan Masuk Bali Padat, ASDP Percepat Waktu Sandar

Sebelum COVID-19 mewabah, sepanjang Januari 2020 kunjungan wisman sebanyak 56.425 orang dengan nilai pendapatan Rp 1.385.545.000. Penurunan mulai terlihat setelah memasuki Februari. Kunjungan turun lebih dari 50 persen menjadi 22.031 orang, dengan jumlah pendapatan Rp 549.415.00.

Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Nengah Sukasta mengatakan, saat ini semua sedang fokus pada upaya pencegahan. Yang bisa dilakukan hanya menunggu situasi membaik dan kebijakan pemerintah pusat selanjutnya.

“Kami di daerah serba salah. Tidak ada kunjungan waswas. Ada kunjungan juga waswas terhadap ancaman penyebaran wabah COVID-19. Kami hanya bisa berdoa dan menunggu kebijakan dari lembaga yang lebih tinggi,” katanya. (Bagiarta/balipost)