Tanaman porang kini banyak dikembangkan dan hasilnya sangat menjanjikan. (BP/may)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Ketika ekonomi Bali lesu karena penopang utamanya yaitu pariwisata terdampak COVID-19, bertani porang menjadi harapan baru. Pasalnya, komoditas ini bernilai tinggi dan berorientasi ekspor. Kementerian Pertanian (Kementan) pun saat ini sedang fokus pada komoditas ini.

Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunartha, Minggu (15/3), mengatakan, sesuai program Kementan, porang dalam setahun terakhir sudah menjadi komoditas andalan ekspor. Dua komoditi utama ekspor dari Kementan adalah porang dan kacang hijau.

Pada 2020, program pengembangan yang dilakukan adalah porang. Namun di Bali belum masuk program pengembangan. “Kalau mau, bisa ajukan e-proposal dalam bentuk kelompok petani dengan gerakan tiga kali ekspor,” ujarnya.

Ketua Perkumpulan Petani Porang Bali (P3B) I Wayan Sunhantika mengatakan, petani porang di Bali sudah cukup banyak. Jumlahnya 58 orang yang tersebar di seluruh Bali. Data sementara, luas lahan kebun sekitar 40 hektar.

Melalui perkumpulan petani porang yang baru terbentuk ini ia berharap dapat saling berbagi informasi dan pengalaman, pengetahuan tentang budi daya porang yang belakangan menjadi trending topic di kalangan petani Indonesia, setelah salah satu petani sukses porang asal Desa Kepel, Madiun, Paidi menjadi miliarder.

Tak heran Paidi asal Madiun menjadi miliarder. Pasalnya porang memiliki nilai strategis untuk dikembangkan serta memiliki daya jual untuk komoditas ekspor. Harganya di pasar domestik Rp 7.500 per kg sampai Rp 10.000 umbi basah. Sedangkan di pasar ekspor nilainya dua kali lipat yaitu sekitar Rp 15.000 per kg. Komoditas ini hanya tumbuh saat musim hujan, dan masa tanam diperkirakan hanya setahun sekali. (Citta Maya/balipost)