Pemkab Bangli melakukan panen bawang putih. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Selain bawang merah, bawang putih cocok dibudidayakan di Bangli. Meski demikian tak banyak petani yang tertarik menanam bawang putih.

Kepala Seksi Produksi Hortikultura, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli Ni Made Yusri Mertha Wahyuni mengatakan salah satu alasan petani kurang tertarik menanam bawang putih karena masa tanamnya lebih lama dibanding bawang merah. Masa tanam bawang putih sekitar tiga bulan.

Sedangkan bawang merah hanya dua bulan sudah bisa panen. Selain itu, hal lain yang juga membuat petani kurang tertarik dengan bawang putih adalah soal pemasarannya. “Kalau mereka memproduksi terlalu banyak, dijual kemana? Siapa yang siap mengambil hasil produksinya. Itu yang membuat petani kurang tertarik,” ujarnya seizin Kadis PKP Kabupaten Bangli Wayan Sarma, Sabtu (7/3).

Dijelaskannya, pengembangan bawang putih di Kabupaten Bangli sudah mulai dilakukan sejak 2018. Dengan bantuan yang bersumber dari APBN, bawang putih kala itu dibudidayakan di lahan seluas 20 hektar di seputaran Danau Batur, Kintamani.

Baca juga:  Kembangkan Koppontren, Puspayoga Tawarkan Solusi Ini

Kemudian di 2019, pemerintah pusat kembali menggelontor bantuan pengembangan bawang putih seluas 100 hektare kepada enam kelompok penerima manfaat. Penanamannya dilakukan di wilayah Banjar Bunut dan Madia, Desa Terunyan.

Yusri mengatakan budidaya bawang putih di Banjar Bunut dan Madia terkendala masalah air. Meski air Danau Batur dapat dimanfaatkan untuk itu, namun untuk mengangkatnya butuh mesin perpompaan dan sarana pipanisasi. “Air yang menjadi kendala di sana. Jadi ketika ingin memberdayakan masyarakat di balik bukit, petani perlu difasilitasi sarana pengairan,” ujarnya.

Di 2020 ini, Bangli kembali mendapat bantuan pengembangan bawang putih seluas 75 hektare. Yusri lebih lanjut mengatakan, secara geografis Bangli sangat cocok untuk pengembangan bawang putih.

Namun demikian pihaknya mengakui selama ini produktivitas bawang putih di Bangli masih belum maksimal. Hasil pengembangan di 2018, produktivitasnya 6,4 ton per hektare. Padahal itu bisa dimaksimalkan 20-25 ton per hektare. (Dayu Swasrina/balipost)