Suasana sharing di Pesraman Lumajang. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Bali tidak boleh lagi hanya mengandalkan pariwisata. Maka dari itu, sektor lain khususnya pertanian harus mulai dibangkitkan.

Namun, untuk membangkitkan pertanian perlu ada inovasi. Salah satunya biodynamic agriculture. Ini juga sejalan dengan visi Gubernur Bali Wayan Koster “nangun sat kerthi loka Bali”.

Biodynamic agriculture kini tengah diujicobakan di Biodynamic Center, Pesraman Lumajang, Samsam, Kerambitan, Tabanan oleh komunitas penggiat biodinamik yang terdiri dari akademisi, penggiat, dan pelaku pertanian bekerjasama dengan Yayasan Dharma Naradha (YDN). Pada, Sabtu (7/3), komunitas ini melanjutkan kegiatan sharing antar pegiat untuk membuat preparat biodynamic.

Preparat berupa kompos biodinamic, CVT, trepaste, preparat dengan tanduk sapi. “Jadi kami sharing di sini, tiap lapisan demi lapisan dibahas supaya ada pengetahuan fungsinya apa, misal kenapa harus pakai bambu, pakai jerami, sehingga kompos ini setelah selesai dalam enam bulan kita panen akan diaplikasikan di lahan biodynamic center,” terang Ketua komunitas penggiat biodinamik Bali, dr Ida Bagus Kesnawa.

Ibarat dalam pertanian organik, lanjut kata Ida Bagus Kesnawa, yang akan dijadikan pupuk. Bahan yang digunakan semua dari bahan organik, seperti kotoran sapi, jerami, tanah, yang kemudian dilakukan bosting dengan memakai preparat biodynamic. “Tujuannya untuk memunculkan energi dalam kompos ini, beda dengan organik dia hanya membuat tetapi tidak ada unsur energi dari alam,” ucapnya.

Biodinamic ini merupakan pertanian organik dengan memadukan peran tanah, tanaman, manusia, hewan biar selaras dengan unsur alam (matahari, bulan, dan planet). “Unsur kosmik dari alam agar selaras dengan unsur bumi, itu sebabnya apa yang dibuat yang merupakan organik diboosting dengan memakai preparat biodynamic yang sudah jadi, yang nantinya akan dikembangkan untuk bisa membuat preparate sendiri,” terangnya.

Hanya saja bagaimana membuat preparate biodinamic, saat inilah yang sedang dipraktekan. Dan akan berlanjut di April untuk pengetahuan yang lebih luas tentang biodynamic agriculture.

Sistem pertanian biodinamik dinilai memiliki keunggulan dari pertanian organik. Sebab, dalam berproduksi sepenuhnya memanfaatkan unsur-unsur biologis atau kehidupan sebagai pendorongnya. Tidak hanya tanpa menggunakan bahan kimia seperti yang diterapkan pada pertanian organik, sistem ini juga memberdayakan organisme hidup sebagai bagian produksi tani. (Puspawati/balipost)