Prosesi ngelawa yang digelar pada 1993. (BP/Dokumen Pura Luhur Batukau)

TABANAN, BALIPOST.com – Setelah melasti ke segara Tanah Lot, akan kembali digelar kegiatan serupa sebagai rangkaian Karya Agung Pangurip Gumi di Pura Luhur Batukau. Namun, kali ini bukan ke segara atau pantai.

Kegiatan akan dilakukan dengan berjalan kaki melewati beberapa tegalan, sawah serta desa-desa di sekitar pura yakni Wongaya Gede, Desa Sangketan, Penatahan dan Tengkudak. Informasi yang disampaikan panitia karya, Senin (2/3), prosesi ngelawa akan didahului dengan nedunang Ida Bhatara pada Selasa (3/3). Kemudian jadwal dilanjutkan pemargi ngelawa pada 4, 5 dan 6 Maret.

Pemargi ngelawa secara sekala menggunakan referensi sungai atau Tukad Yeh Mawa yang dipercaya sebagai sumbu tengah yang membelah daerah Tabanan menjadi sisi barat dan timur. Subak Piak, Amplas, Sandan, Bongli, Sangketan dan Tegayang mewakili sisi barat. Subak Deman, Penatahan, Tengkudak, Wongaya Gede, Batukambing, Bengkel mewakili sisi timur. Selain itu tentu secara niskala Ida Sesuhunan juga menjangkau seluruh wilayah.

Rangkaian ngelawa berkaitan erat dengan upacara nangkluk merana karenanya pada prosesi ini Ida Sesuhunan secara khusus akan melalui Taman Sari (tegalan dan sawah) dan tidak secara khusus nyujur pura tertentu. Beberapa pura dipilih dengan tujuan beristirahat, mesandekan dan menginap (marerepan).

Baca juga:  Puluhan ASN Jadi Napi Nasibnya Belum Jelas, Tersangka OTT Masih Terima Gaji

Untuk itu krama dipersilahkan nunas hanya pada saat Ida Sesuhunan memargi ngelawa dan bukan saat mesandekan dan marerepan. Hal penting lainnya, saat Ida Bhatara napak baik di subak dan tegalan yang akan dilalui, pangiring diharapkan ada di belakang karena Ida Bharata yang harus napak pertama kali baru diiringi pengiring.

Selain itu, selama Ida Bhatara memargi ngelawa, seluruh krama dilarang bekerja di sawah baik yang dilalui maupun tidak. Krama bisa kembali bekerja di sawah setelah Ida Bhatara napak dan kembali malinggih di Pura Luhur Batukau pada 6 Maret 2020 dan masing-masing subak dan krama melaksanakan upacara penangluk merana pada 7 Maret atau setelahnya. (Asmara Putera/balipost)