Siswa SMK sedang membaca koran saat orientasi siswa baru. (BP/dok)

Setiap zaman memiliki ciri khas berbeda. Jika di era 1970-an mahasiswa S-1 untuk ujian sekripsi harus memboyong sebanyak-banyaknya sumber bahan bacaan penelitiannya. Sebab, pertanyaan penguji juga menyentuh mana sumbermu, buku apa dan siapa pengarangnya. Kini di zaman digital cukup materi itu di-print-kan saja.

Bagi siswa sekolah menengah, mereka cukup melihat di online sudah menemukan jawabannya. Sangat jauh dengan teknik belajar di era lama, siswa disuruh menggarisbawahi materi yang penting, atau menulis kembali di buku catatan. Hal inilah yang membuat mereka malas membaca karena tak langsung menemukan hasilnya.

Kondisi inilah yang membuat bahwa minat membaca para remaja dan siswa kini makin menurun. Faktor internal dan eksternal tetap menjadi penyebabnya. Apalagi di tengah budaya narsis, semua bisa diperoleh lewat internet. Ditambah lagi sikap anak-anak sekarang yang serbamanja, mau instan, bukan berjuang mencari di berbagai sumber belajar.

Kita bisa lihat aktivitas dan cara belajar pelajar sekarang. Mereka tak mau membaca buku terlebih dahulu untuk memperoleh pengalaman baru atau materi baru, namun sudah loncat menjawab pertanyaan di bagian akhir materi. Namun anehnya, mereka belum menemukan jawaban langsung minta bantuan internet. Artinya, mereka kering dengan materi temuan sendiri.

Mendikbud Nadiem Makarim pun berpikir banyak soal minat baca anak-anak sekarang. Namun perlu diingat kita tak boleh menyalahkan secara total pada diri anak mengapa mereka tak memiliki budaya dan kebiasaan membaca buku. Padahal membaca adalah sumber kita bisa menulis sebuah karya sumber penting pengalaman kita untuk bisa berbicara kepada orang lain. Sekaligus sumber kita untuk mempertahankan argumentasi berdasarkan kajian ilmiah.

Jangan salahkan anak tak mau membaca karena sumber bacaan kita terlalu padat dan tergolong tinggi dipahami untuk usia tertentu. Bahkan sistem pendidikan kita terkesan terlalu padat materi. Mendikbud Nadiem Makarim pun berencana untuk menyederhanakan lagi model pembelajaran di sekolah. Kedua, guru juga disibukkan dengan aturan administrasi yang berjubel sehingga mereka jarang juga memberi kesempatan bagi siswa untuk membaca atau ke perpustakaan. Sebab, guru wajib menuntaskan administrasi lainnya.

Baca juga:  Perpustakaan dan Literasi Akar Rumput

Hasil diskusi soal masalah perpustakaan kita yang digelar Bali Post belum lama ini memberi pelajaran bagi kita bahwa kita tak boleh menyerah di tengah menurunnya minat membaca para remaja. Di luar negeri anak-anak SD cukup diberikan dua-tiga mata pelajaran penting, setelah itu mereka diajak bereksplorasi di lapangan.

Untuk awal memang tidak perlu kamu membaca buku-buku dengan bahasa yang berat. Cobalah untuk biasakan membaca dari buku-buku santai, yang kata-katanya mudah kita mengerti. Bacalah berbagai jenis buku, dari yang disukai anak. Para guru pun memiliki kesempatan yang banyak untuk menjadi model SDM gemar membaca. Namun yang terjadi sebaliknya, kata narasumber di diskusi itu justru gurunya jarang pergi ke perpustakaan karena sibuk ngurus administrasi guru dan target ketuntasan pembelajaran atau memang malas. Makanya jangan salahkan anak tak suka membaca, karena gurunya sendiri juga malas membaca.

Kita mengetahui membaca buku memiliki banyak manfaat yang luar biasa untuk diri kita. Membaca bukan sekadar mendapatkan ilmu pengetahuan dan membuka dengan dunia luar yang lebih luas lagi. Membaca juga penting untuk membuka pikiran, tetapi membaca juga sangat baik untuk kesehatan.

Bagi orang dewasa menggunakan waktu senggang beraktivitas kreatif atau intelektual (seperti membaca) mempunyai peluang 32 persen lebih lambat mengalami penurunan kognitif. Artinya, mereka lebih rendah peluangnya mengalami pikun. Nah, kalau sudah demikian ayo kita membaca sampai mata ini tak lagi kuat melihat huruf-huruf.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.