suwung
Aktivitas pengelolaan sampah di TPA Sarbagita, Pesanggaran, Denpasar. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) TPA Sarbagita Suwung mulai disampaikan kepada calon-calon investor. Sedikitnya ada 31 calon investor dari dalam dan luar negeri mengikuti market sounding KPBU PSEL Sarbagita di Wiswasabha Utama Kantor Gubernur Bali, Senin (2/12).

Nantinya, Pemprov Bali dan kabupaten/kota akan menyiapkan tipping fee yang besarannya untuk sementara ditetapkan Rp 360 ribu per ton. “Market sounding artinya project ini disampaikan ke calon-calon investor yang diundang agar mereka paham. Kemudian bertemu pengembang dan juga pihak perbankan yang nantinya akan memberikan pendanaan,” ujar Direktur Pelaksanaan Pembiayaan Infrastruktur Permukiman, Ditjen Pembiayaan Infrastruktur PU dan Perumahan, Kementerian PUPR, R. Haryo Bekti Martoyoedo.

Haryo menambahkan, para calon investor yang hadir juga diharapkan bisa memberi masukan untuk penyempurnaan berbagai hal terkait dengan penyiapan proyek PSEL Sarbagita. Investor juga bebas mengajukan teknologi apapun, karena memang belum dipastikan teknologinya.

Namun yang jelas, sampah yang menumpuk harus bisa dikurangi secara signifikan. Kemudian dari pengolahan sampah bisa menghasilkan energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. “Sesuai isi Perpres No.35 Tahun 2018, diharapkan memang ada listrik sebagai pengembalian investasi dari investornya. Selain dengan tipping fee yang disiapkan oleh Pemprov bekerjasama dengan kabupaten/kota. Tipping fee tadi disampaikan di angka Rp 360 ribu per ton,” paparnya.

Baca juga:  Dampak Status Awas Gunung Agung, Wisatawan Grup Banyak Batal ke Bali

Menurut Haryo, nilai investasi PSEL Sarbagita dengan skema KPBU (Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha) diperkirakan mencapai Rp 2,510 triliun. Untuk PSEL sudah disiapkan lahan seluas 5 hektar di TPA Sarbagita Suwung. Pihaknya memastikan proyek ini tidak akan gagal karena sudah menjadi program prioritas pemerintah pusat. “Ini sebagai nilai tambah supaya tidak gagal,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Teja menargetkan Januari tahun depan sudah bisa dilakukan beauty contest. Terlebih setelah dilakukan proses penjajagan kepada calon investor lewat kegiatan market sounding.

Dari 31 calon investor, cukup banyak yang berasal dari luar negeri. Ketika disinggung soal tipping fee, Teja menyebut besaran Rp 360 ribu per ton masih belum disepakati oleh kepala daerah Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan). “Rp 360 ribu per ton itu baru perencanaan, belum disepakati. Nanti masih akan dibicarakan,” jelasnya.

Ketinggian sampah di TPA Suwung saat ini diperkirakan mencapai 6 sampai 8 meter. Volume sampah terbanyak disumbangkan oleh Denpasar sebanyak 815 ton per hari.

Kemudian Badung sebanyak 127 ton per hari, Gianyar sebanyak 85 ton per hari, dan Tabanan sebanyak 4 ton per hari. Akan tetapi, khusus Gianyar dan Tabanan sudah berhenti membuang sampah ke TPA Suwung sejak 2018 lalu. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.