Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (BP/dok)

Oleh GPB Suka Arjawa

Pemilihan Ahok sebagai Komisaris Utama Pertamina mendatangkan ‘’ribut’’ pada sebagian masyarakat Indonesia. Itu lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang dahulu juga meributkannya. Akan tetapi, mantan Gubernur Jakarta itu tetap melaju dan diangkat oleh Menteri BUMN sebagai komisaris utama. Sebagian dari masyarakat Indonesia malah bergembira dengan diangkatnya Ahok sebagai komisaris perusahaan yang pernah menjadi sumber daya utama Indonesia tersebut.

Cerita awal dari Ahok adalah wacana tentang pengangkatannya sebagai Komisaris Utama Pertamina. Dari sini berkembang menjadi beragam komentar yang sebagian menyudutkan Ahok. Namun, tinjauan terhdap hal ini menarik terutama apabila dikaitkan dengan sosiopolitik di Indonesia.

Cara pandang ini menekankan kepada sikap masyarakat atau kelompok masyarakat terhadap keputusan politik, baik yang dibuat pemerintah maupun atas kejadian yang ada. Dari pandangan masyarakat ini akan tergambarkan bagaimana tingkat pemahaman politik masyarakat, budaya mereka, sampai pada pelajaran dan kemudian upaya yang dapat dilakukan berdasarkan sikap tersebut.

Politik masyarakat, terutama sebagian besar yang terkait dengan kasus yang dialami Ahok pada masa lalu, yang membuat dirinya dipenjara, adalah politik sinis yang berhasil menjatuhkan Ahok dari ranah politik.

Ia telah gagal menjadi gubernur dan kemudian dihukum. Akan tetapi, politik sinis itu adalah proses yang berupaya menjatuhkan orang karena tidak mampu melihat secara jujur atas prestasi yang diraih orang. Prestasi itu beragam. Keberanian juga sebuah prestasi. Ahok adalah sosok yang berani.

Persoalannya, cara pandang seperti ini tidak akan mampu melihat politik itu secara realistis. Padahal korupsi, nepotisme, termasuk berbagai kemacetan itu merupakan real politik Indonesia saat ini. Hanya dengan keberanianlah yang akan mampu menumbangkan atau paling tidak meminimalkan persoalan-persoalan tersebut.

Berbagai tekanan yang menggunakan massa, termasuk berbagai kerusuhan yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu, juga masuk dalam real politik Indonesia itu. Jangan juga dilupakan kesediaan Prabowo Subianto masuk dalam jajaran kabinet, juga merupakan real politik.

Pertamina merupakan lumbung besar Indonesia dari segala macam sisi. Bahwa Indonesia pernah jaya karena ada tambang minyak yang dikelola Pertamina, itu adalah benar. Akan tetapi, Pertamina juga pernah dikorup, pernah berperkara dengan perorangan yang mengkorupnya pada zaman Orde Baru.

Dan Pertamina juga dikelilingi oleh kartel, dan berbagai mafia yang mengisap kekayaan negara. Kini, penghasilan terbesar dari Indonesia tidak dari minyak lagi, tidak seperti pada zaman Orde Baru. Minyak juga bukan merupakan komoditas emas di seluruh dunia.

Bisa dibayangkan, apabila dalam kondisi itu, Pertamina masih dikorup, masih dikelilingi mafia dan sejenisnya yang menggerogoti perusahaan negara tersebut. Maka, sangatlah diperlukan orang yang mempunyai keberanian untuk mengawasi perusahaan besar itu. Pengawasan ini sebagai langkah awal untuk menghabisi para mafia tersebut.

Baca juga:  Menahan Diri, Menjaga Ketenangan

Ahok adalah salah satu orang yang mempunyai karakter pemberani tersebut, dan inilah yang diperlukan oleh Pertamina pada situasi negara memerlukan lembaga-lembaga bersih sekarang. Karena minyak sudah tidak menjadi komoditas utama sebagai sumber daya keuangan negara, maka korupsi sudah merupakan keharusan untuk hilang dari praktik masyarakat agar keuangan negara menjadi sehat.

Jika pajak berhasil dimaksimalkan oleh negara, maka keberhasilan pemberantasan korupsi akan menjadi penopang utama untuk menjalankan anggaran negara. Jika korupsi dapat ditekan, anggaran akan dapat dimanfaatkan secara maksimal dan pembangunan berjalan dengan baik di segala bidang.

Jika secara mental Ahok sudah mempunyai keberanian untuk melakukan gebrakan saat menjadi Gubernur Jakarta, maka hukuman dan berbagai kontroversi yang didapatkannya justru mampu menambah mental keberanian tersebut. Tidak ada orang yang mempunyai pengalaman seperti ini.

Jika hukuman yang pernah dijalani itu dapat dipandang sebagai hukuman politik, maka akan bertambah kuatlah mental dia untuk melakukan tugas lain yang diberikan oleh negara. Maaf, dia juga tabah dalam menghadapi masalah keluarga yang menimpanya. Akumulasi ini  mungkin saja membuat dia bertambah kuat. Pertamina memang memerlukan orang seperti ini agar dapat bersih dan dapat dimanfaatkan secara positif oleh negara.

Atau, apabila mampu melihat secara lebih luas, keterpilihannya sebagai Komisaris Utama Pertamina haruslah dipandang sebagai kesempatan lain lagi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk melihat bagaimana cara kerja Ahok di dalam ketatanegaraan, termasuk juga mental yang dimilikinya.

Jadi, bukan sepihak pada orang-orang yang membencinya melihat kinerjanya sebagai komisaris, tetapi juga seluruh masyarakat yang kemudian akan mampu memberikan pertimbangannya. Diperlukan kejujuran untuk melakukan penilaian terhadap hal seperti ini.

Karena itulah, politik yang cenderung melihat secara sinis terhadap sebuah sosok, tidak akan dapat mempertahankan posisinya pada level nasional. Tetapi, jika politik seperti ini mampu berbalik dan mengakui kekeliruannya, maka dia akan mendapatkan simpati secara lebih luas, dan posisi politiknya pada kancah nasional akan lebih kuat.

Perubahan seperti ini juga memerlukan keberanian. Dan politisi yang mempunyai sikap seperti ini, memerlukan perjuangan dan latihan juga, seperti halnya Ahok yang mungkin mendapat tambahan kekuatan dan simpati manakala dia dipernjara dan menghadapi masalah keluarga.

Indonesia memerlukan orang-orang berani sekarang, bukan saja berani menghadapi hukuman politis bagi politisi tetapi juga berani mengubah orientasi pandangan politis. Berani secara jujur menghadapi lawan yang memang lebih matang dan kuat. Dengan cara seperti itulah, negara Indonesia akan tambah matang juga. Elite politisi yang memberikan contoh, akan ditiru juga oleh masyarakat untuk secara jantan mengakui kelebihan-kelebihan kompetitor. Pertamina bersih, negara menjadi berdaya.

Penulis, staf pengajar Sosiologi FISIP Universitas Udayana

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.