Wisatawan mancanegara berjemur di Pantai Semawang, Sanur, Denpasar. (BP/dok)

NEGARA, BALIPOST.com – Cuaca ekstrem yang terjadi sepekan ini merupakan ciri peralihan dari kemarau menuju penghujan. Beberapa wilayah khususnya di Jembrana, sudah mulai diguyur hujan lebat seperti di Kecamatan Mendoyo, Jembrana dan Negara.

Bahkan akhir pekan lalu menimbulkan musibah salah satu rumah di Banjar Sekar Kejula, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo amblas diguyur hujan. Dari informasi, berdasarkan update monitoring hari tanpa hujan pada Sabtu (30/11), terlihat wilayah Bali Tengah sudah mulai ada hujan. Sedangkan Bali pesisir utara selatan masih sesekali hujan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jembrana, Rahmat Prasetya, Minggu (1/12) mengatakan berdasarkan prakiraan pada 10 hari ke depan terlihat wilayah Bali Tengah peluang hujan-nya di atas 50% sedangkan di wilayah lainnya dibawah 50%. Diakui saat ini wilayah Bali belum ada yang masuk musim hujan (curah hujan lebih dari 50 per dasarian).

Namun jika melihat hujan sesekali dan peringatan dini hujan ekstrem beberapa hari ini sudah tampak hujan di Bali Tengah. Pihaknya juga membantah bila tidak adanya hujan dikarenakan laser atau lampu sorot.

Menurut Rahmat, sangat tidak bisa hal semacam itu dilakukan untuk menggagalkan hujan. Mundurnya musim hujan ini disebabkan Angin timuran masih dominan dan fase mjo kering membuat hujan delay atau terlambat. “Faktor-faktor di atas menyebabkan presentase ketersediaan uap air di atmosfer belum cukup tinggi,” tambahnya.

Diharapkan awal Desember 2019 sebagian besar wilayah bali sudah memasuki musim hujan. “Semoga makin banyak hujan di bulan Desember dan perlu diwaspadai daerah yang rawan bencana,” terang Rahmat.

Sementara itu, belakangan juga santer di masyarakat bahwa cuaca gerah dan kemarau ini merupakan dampak dari laser ataupun lampu sorot yang digunakan untuk konser musik. Isu laser tersebut dikaitkan dengan berlangsungnya sejumlah proyek pembangunan yang tidak mengharapkan hujan turun.

Baca juga:  Utang Pemerintah

Seperti di RSU Negara misalnya. “Sejak awal pengerjaan, kami tidak pernah menggunakan laser yang disebut untuk menghalau hujan. Justru sekarang ini kami membutuhkan hujan karena debu yang mengganggu,” tepis I Made Pradnya Alit, Humas PT Nindya Karya, pelaksana proyek RSU Negara.

Saat ini progress pengerjaan struktur bangunan di RSU Negara sudah hampir 90 persen dan semuanya sudah pemasangan atap gedung. Malahan di awal pengerjaan pernah kebanjiran juga karena hujan.

Bantahan serupa juga diungkapkan salah seorang event organizer (EO) di Jembrana, Dono Riswoyo. Penggunaan lampu sorot ke arah langit di sejumlah even merupakan upaya menarik orang datang dan menandati lokasi even. “Itu bukan pemecah apa-apa, cuma lampu signal buat tempat event atau keramaian sejenisnya. Sooklight namanya,” terang Dono.

Bila dilihat dari kejauhan orang akan bertanya-tanya ada apa di lokasi tersebut. Fungsinya untuk menarik orang datang.

Sementara itu, selama akhir pekan lalu, hujan mulai datang dengan curah yang cukup tinggi. Bahkan di beberapa lokasi terjadi musibah, seperti di Pura Pucak Luhur Berangbang Agung yang tersambar petir di salah satu pelinggih, Jumat (29/11) sore.

Pelinggih tertinggi yakni meru tumpang sembilan tersambar petir di bagian puncak. Dua bagian atas meru tersebut mengalami kerusakan.

Sambaran petir tersebut juga mengakibatkan kilometer listrik hangus dan sebagian pondasi pelinggih taksu mengalami kerusakan dan dua unit lampu yang menyinari meru hancur. Selain itu, pada Sabtu (30/11) pagi, pondasi rumah warga di banjar Sekar Kejula, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo mengalami amblas. Rumah semi permanen milik I Ketut Sumada (46) amblas diduga karena dampak guyuran hujan semalam sebelumnya. (Kerta Negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.