Puluhan siswa belajar di halaman SDN 2 Pejeng Kangin dibimbing dua orang guru wali. (BP/dok)

Guru menempati posisi strategis dalam upaya melakukan perubahan besar di negeri ini. Guru yang sarat dengan predikat dan kini telah memiliki pendapatan yang tergolong memadai, juga harus berbenah.

Guru jangan semata menjabarkan target kurikulum tetapi juga harus mampu melakukan olah kreasi dalam pembelajaran. Perubahan dalam pembelajaran inilah yang kini ditunggu publik, ketika harapan besar pada dunia pendidikan digantungkan.

Tentu kita juga masih ingat  pada harapan Presiden Jokowi untuk melakukan terobosan besar dalam dunia pendidikan dengan menempatkan sosok milenial dalam dunia pendidikan. Nadiem Makarim yang dipercaya memimpin departemen besar Pendidikan dan Kebudayaan mestinya segera melakukan adaptasi.

Mengubah pola lama yang nyaris karatan tentu bukan hal mudah. Tantangannya begitu besar dan kita harus menatap ke luar dari tantangan itu sebagai pemenang. Jika kita hanya menang dalam statemen tanpa melakukan perubahan nyata dalam dunia pendidikan tentu lima tahun ke depan, kita juga akan mendapatkan wajah buram dalam dunia pendidikan.

Terlepas dari fakta plus minus dunia pendidikan, kita harus bersepakat bahwa dunia pendidikan di negeri ini harus menuju pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Tersandera dalam pembelajaran dalam kelas dan menyeragamkan target pembelajaran adalah hal yang harus dievaluasi.

Pendidikan hendaknya mampu membentuk manusia cerdas dan profesional. Pintar dalam penguasaan materi namun gagap dalam beradaptasi dalam dunia kerja adalah bentuk kegagalan juga. Kini, ketika deretan angka pengangguran bertambah besar dan ekonomi makin terpuruk, kekhawatiran terhadap penyerapan lulusan dunia pendidikan makin kuat.

Baca juga:  Diduga Lecehkan Siswi, Guru Dilaporkan ke Polisi

Dalam konteks kekinian, di eran milenial dan teknologi, terobosan dengan berpijak pada poros baru haruslah dimulai. Di sini membutuhkan keikhlasan untuk berbenah dan jangan terjebak pada gelar dan status lembaga pendidikan.

Jika faktanya banyak lulusan lembaga pendidikan tinggi yang bersertifikasi A, maka kita harus sepakat juga standar sertifikasi juga harus ditinjau. Standardisasi juga berorientasi pada  penyerapan lulusan pada dunia kerja.

Bahwa tugas guru yang merupakan pekerjaan mulia dan sulit. Menurut Nadiem, guru di Indonesia ditugasi membentuk masa depan bangsa namun lebih sering diberi aturan dibanding pertolongan.

Guru yang dibebankan hal-hal administratif hingga menghambat proses belajar-mengajar hingga guru yang terpaksa bertumpu pada hasil ujian gara-gara kebijakan pemangku kepentingan, selama ini menghambat profesional guru.

Kita juga berharap guru memiliki peran sentral dalam digitalisasi sekolah. Sehingga tidaklah benar bahwa anggapan jika digitalisasi sekolah terealisasi maka guru akan tersingkirkan, guru akan diganti oleh teknologi.

Padahal sejatinya, teknologi tercipta untuk memudahkan bukan untuk menggantikan. Tanpa guru, program ini tidak akan berdaya guna dengan baik. Dengan masuknya teknologi dalam pembelajaran bukan berarti guru tidak perlu mendampingi siswa dalam belajarnya, bukan berarti siswa dibiarkan tanpa batasan dalam penggunaan teknologinya. Guru tetap harus merancang pembelajaran yang memanfaatkan teknologi tetapi masih dalam koridor-koridor yang tepat yang dapat membantu siswa dalam belajarnya.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.