Patung ulatan bambu jadi ikon baru Desa Wisata Tampaksiring. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Desa Wisata Tampaksiring kini memiliki ikon baru berupa patung ulatan bambu, dengan desain miniatur candi tebing Gunung Kawi dan Dewi Sri. Patung ini merupakan karya baru yang dicetuskan seniman spesialis pembuat patung ulatan bambu, I Gusti Ngurah Arya Udianata.

Sejak dirampungkan Selasa (26/11), patung ini banyak menjadi obyek selfie warga maupun wisatawan yang melintas. Sebagai ikon Desa Wisata Tampaksiring, patung ini memiliki ukuran tinggi 6,5 meter dan lebar 7 meter.

Patung ini dipajang tepat di depan Puri Tampaksiring, atau sebelah utara Pasar Tampaksiring. “Ini karya yang saya rampungkan beberapa hari lalu,” ujar Gusti Ngurah Arya Udianata ditemui Kamis (28/11).

Ia mengatakan patung yang kini dijadikan salah satu ikon Desa Wisata Tampaksiring ini, merupakan karya terbesarnya yang kelima. Sebelumnya ia pun sudah membuat sejumlah karya besar, seperti Patung Baris Soundrenaline, Patung Robot untuk pameran, Dewi Sri untuk Festival Jatiluwih, dan Patung Figur Manusia untuk pameran. “Ini patung jumbo yang kelima,” ujarnya.

Merampungkan miniatur Candi Tebing Gunung Kawi dan Dewi Sri ini, Udianata melibatkan 7 rekannya yang lain serta beberapa warga desa yang secara sukarela membantu. “Kami kerjakan secara gotong royong, banyak yang terlibat. Karena ini untuk desa,” ujarnya.

Baca juga:  Kesimpangsiuran RKUHP, Bali Terancam "Kosong" Wisman

Patung ini, mulai dikerjakan awal November 2019 dan baru rampung pada Selasa (26/11). Guna merampungkan patung ini, timnya kerja siang malam. Bahkan sering lembur hingga subuh. “Biasa kerja sampai jam 4 pagi. Bahkan saat merakit di lokasi, jam 6 pagi baru selesai,” ungkapnya.

Namun seharusnya, patung ini dipajang saat launching Desa Wisata Tampaksiring Minggu (17/11). Dikarenakan keterbatasan waktu, patung ini baru rampung akhir bulan ini. “Sebenarnya diminta sudah jadi pas launching Desa Wisata. Waktu mepet, Cuma 15 hari, jadi tidak bisa dipaksakan. Maka baru dipasang lusa, sekaligus jadi dekorasi penutupan Porsenides Tampaksiring,” jelasnya.

Sebagai ikon Desa Wisata, patung akan tetap di lokasi saat ini. Disinggung berapa dana yang dihabiskan termasuk dibayar berapa untuk sebuah patung monumental ini, Udianata tidak ingin menyebut nominal. Yang jelas, semua bahan-bahan didapatkan dengan cara membeli, baik berupa batangan bambu, ulatan klakat maupun sisitan bambu. “Untuk klakat saja, kami habiskan sekitar 2.000 biji,” tandasnya. (Manik Astajaya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.