Guru sedang mengajar di kelas. (BP/dok)

Salah satu cita-cita luhur para pendiri negara ini yakni mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Cita-cita luhur ini tertuang pada pembukaan UUD 1945 alinea keempat. Untuk mencerdaskan bangsa ini, masalah pendidikan pun menjadi prioritas pembangunan.

Namun, mencerdaskan kehidupan bangsa dalam hal ini tidaklah sekadar cerdas dalam hal akademis. Kehidupan yang cerdas menyangkut kesadaran akan harga diri, harkat dan martabat, kemandirian, kejujuran dan sejenisnya. Cerdas dalam hal ini mampu menciptakan solusi bagi masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata.

Saat ini maupun ke depan yang dihadapi adalah kehidupan milenial dengan revolusi industri 4.0. Karena itu, pendidikan pada era milenial sekarang ini sangat mengedepankan sentuhan dan pemanfaatan teknologi. Terlebih lompatan teknologi informasi (TI) benar-benar membuka era kesejagatan, riuhnya dunia maya.

TI memberi kemudahan akses tak terbatas ruang/tempat dan waktu. Termasuk di dunia pendidikan. Semua orang kini dituntut untuk melek informasi.

Terlebih lagi bagi tenaga pendidik (guru dan dosen), yang dituntut harus selangkah lebih awal tahu dari peserta didiknya (murid/mahasiswa). Barangkali pemikiran ini menjadi salah satu pertimbangan Presiden Joko Widodo menempatkan generasi milenial, Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Indonesia Maju-nya.

Kehadiran sosok menteri milenial yang sangat populer dengan aplikasi Gojek-nya diharapkan membawa arus perubahan dunia pendidikan mengikuti perkembangan dunia milenial guna mempersiapkan generasi milenial bangsa ini menghadapi persaingan revolusi industri 4.0. Mengingat, mendidik generasi milenial dituntut kehadiran seorang guru milenial pula. Ini telah dimulai dengan kehadiran top leader-nya seorang menteri milenial.

Karena pendidikan milenial memanfaatkan kecanggihan teknologi secara maksimal dan optimal. Seorang guru milenial paling tidak haruslah tahu informasi terkini yang berkembang di masyarakat (global). Meski, tidak harus detail mengetahuinya, apalagi terkait hal-hal spesifik seperti tren gaul anak didik. Pengetahuan akan informasi lebih diarahkan sesuai bidang/mata pelajaran yang mereka pegang. Mengingat, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus bahkan demikian pesatnya.

Baca juga:  MPP Diserbu Siswa

Pada era milenial, tenaga pendidik yang gagap teknologi (gaptek) dan tidak bisa mengikuti perkembangan TI, tidak hanya dianggap kurang gaul. Tetapi, telah gagal pada bidang yang digelutinya. Mengingat, tenaga pendidik ini yang diharapkan menjadi agen perubahan. Bagaimana bisa disebut agen perubahan jika guru sendiri tidak cepat mengikuti perubahan yang terjadi.

Menjadikan guru sebagai agen perubahan, pemerintah berkewajiban mempersiapkan SDM guru atau tenaga pendidik milenial. Entah melalui sebuah pendidikan singkat (diklat), atau merancang kurikulum perguruan tinggi pencetak guru milenial. Jika sistem (kurikulum)-nya telah disiapkan, SDM tenaga pendidiknya juga siap, kewajiban pemerintah berikutnya menyediakan atau menyiapkan fasilitas penunjangnya.

Yang kini direncanakan, perubahan kurikulum mengikuti tuntutan revolusi industri 4.0. Penyediaan perangkat seperti komputer lengkap dengan jaringan internetnya, wajib hukumnya pada zaman pendidikan milenial. Demikian halnya perangkat (alat) ajar lainnya, mulai dari bahan ajar dan sejenisnya, haruslah berbasis teknologi.

Hanya, saat ini hal ini belum bisa dipenuhi semua. Misalnya saja tenaga guru. Di samping kurang merata dari sisi jumlah, juga dari kualifikasi terutama yang berbasis TI. Ini masih menjadi kendala pendidikan milenial. Tidak semua guru mampu memiliki perangkat penunjuang pendidikan milenial ini. Belum lagi jika berbicara masalah suprastruktur seperti ketersediaan jaringan internet sebagai salah satu kunci keberhasilan pendidikan milenial berbasis TI ini.

Tuntutan revolusi industri 4.0 menjadi sebuah tantangan dan harapan ke depan. Pemerintah harus mampu menyiapkan dan menyediakan pendidikan milenial ini. Karena dengan pendidikan milenial ini, pemerataan pendidikan di tanah air juga cepat terwujud.

Yang bisa segera dilaksanakan mengubah pola pikir tenaga pendidik. Mereka harus dari pola pikir pendidikan konvensional menjadi berbasis TI hingga menjadi guru milenial. Hanya guru milenial yang kini bisa diharapkan menjadi agen perubahan, seperti yang dicita-citakan bersama. Hanya guru milenial yang bisa mempersiapkan bangsa ini menghadapi persaingan global pada era revolusi industri 4.0.

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.