SINGARAJA, BALIPOST.com – Sejumlah warga Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Minggu (24/11) melakukan aksi damai menyikapi dugaan maraknya praktek prostitusi terselubung di sebuah penginapan di Jalan Pulau Obi, Singaraja. Warga meminta agar penginapan yang selama ini dicurigai jadi lokasi maksiat itu ditutup.

Aksi warga ini dilakukan dengan mendatangi beberapa lokasi rumah yang belakangan disewakan untuk penginapan. Beberapa orang warga membawa poster yang berisi tuntutan mereka agar menutup dan menghentikan aktivitas penginapan, kafe remang-remang dan tempat massage di wilayah Jalan Pulau Obi.

Tidak hanya melakukan aksi damai, warga bersama aparat Kecamatan Buleleng dan pecalang melancarkan inspeksi mendadak (sidak). Beberapa lokasi penginapan di wilayah itu disasar.

Hasilnya, beberapa pasangan yang diketahui bukan suami istri sah ditemukan berada di dalam kamar penginapan. Salah satunya mantan oknum perangkat desa di Kecamatan Sawan, WA.

WA ditemukan bersama perempuan yang bukan istrinya. Ia hanya tertunduk malu saat disidak. Demikian pula pasangannya, setelah terciduk berusaha bergegas meninggalkan lokasi penginapan dengan mengendarai sepeda motornya sendiri.

Selain mantan oknum perangkat desa, juga ditemukan sejumlah pasangan tidak sah lain. Bahkan, satu pasangan tidak sah usianya sudah lanjut.

Saat diminta ke luar kamar, pasangan lansia itu tidak bisa menyembunyikan pebuatan yang dilakukannya. Bahkan, pasangan ini mengakui kekhilafannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Baca juga:  Pembunuh SPG juga Dibidik Kasus Perampokan

Kordinator warga Made Ariyasa mengatakan, belakangan ini aktivitas penginapan, kafe remang-remang dan salon kecantikan di Jalan Pulau Obi dicurigai menjadi lokasi prostitusi. Bahkan, dugaannya itu dikuatkan dengan data yang mengarah pada aksi prostitusi.

Salah satu buktinya, sering ditemukan pasangan bukan suami istri terciduk di dalam kamar penginapan. Tak hanya itu, pernah ditemukan orang meninggal dunia di penginapan, sehingga situasi ini memicu keresahan dan terganggunya kamtibmas. “Data dan fakta sudah terjadi dan sering menjadi pemberitaan di media masa. Kami tidak ingin di wilayah ini dijadikan tempat yang berbau “esek-esek” seperti ini. Kami minta dukungan aparat pemerintah agar hal ini menjadi perhatian,” katanya.

Ariyasa mengatakan warga akan melakukan pengawasan lebih ketat. Upaya ini dilakukan karena pengaduan oleh warga belum ditindaklanjuti oleh aparat pemerintahan. “Setelah ini akan ada pengawasan lanjutan dan bisa dilakukan oleh warga yang lebih banyak. Sebenarnya ini ranah pemerintah namun karena pengaduannya belum ditindaklanjuti dengan baik, kami lakukan pengawasan,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.