Pinandita sangging disarankan mengenakan atribut agar higienis, seperti masker mulut dan sarung tangan medis saat melaksanakan matatah atau potong gigi. (BP/edi)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pinandita Sangging yang bertugas melaksanakan upacara adat matatah atau potong gigi, diharapkan memperhatikan kebersihan dan higienis ketika melayani umat. Apalagi dalam pelaksanaan matatah massal yang melibatkan banyak peserta , agar penyakit menular melalui pertukaran air liur, darah dan serpihan gigi bisa dihindari.

Menurut Ketut Suardana selaku pangempon Pura Puseh Desa Adat Denpasar, dalam melayani umat, pinandita sangging mesti dilengkapi dengan atribut higienis seperti masker mulut dan sarung tangan medis sekali pakai. Seperti pada pelaksanaan matatah masal yang berlangsung di Pura Puseh Desa Adat Denpasar belum lama ini, panitia menyediakan atribut higienis dan satu paket kikir sekali pakai bagi setiap peserta.

“Kami mengusung konsep upacara adat hegienis. Kita ketahui bersama, upacara yang bersifat massal sangat rentan menularkan penyakit. Itu kami lakukan untuk menghindari konotasi negatif yang mengarah kepada ilmu mejik,” ujar Suardana yang juga ketua panitia matatah massal.

Baca juga:  Pemahaman Masih Kurang, Penderita Kanker Terus Bertambah

Pihaknya juga menyesuaikan praktik matatah dengan ilmu kedokteran. Seorang dokter gigi yang juga ngayah sebagai pinandita sangging menjelaskan, secara medis gigi sejatinya tidak boleh diganggu seperti melakukan pengikiran, karena akan merusak struktur gigi. Menghindari dampak-dampak yang tak diinginkan, pihaknya hanya menerapkan simbolis dalam proses metatah agar kelak gigi peserta tidak bermasalah.

Pada bagian lain, salah seorang pinandita sangging, Jro Kadek Iwan Wiracana, menyatakan, higienis penting dilakukan seiring dengan berkembangnya pemahaman masyarakat terhadap ilmu pengetahuan. Konsep higienis sangat relevan diterapkan dalam upacara khususnya yang bersifat massal. “Sementara ini, penggunaan masker dan slop tangan belum merata. Ada yang pakai, ada yang tidak. Biasanya dalam kegiatan yang digelar pribadi, jarang pakai begitu karena peserta tidak banyak,” jelasnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.