Golkar
Pengurus DPP Partai Golkar. (BP/har)

Partai politik bertumbuh dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Apabila dilihat dari sejarahnya, partai politik yang muncul barangkali menjadi inspirasi bagi munculnya sikap-sikap kritis terhadap kebangsaan dan penjajahan. Partai Nasionalis Indonesia yang lahir tahun 1927 dapat dikategorikan seperti itu. Konsep dasar dari partai ini, seperti yang tercermin dalam namanya, yaitu nasionalis, jelas memperjuangkan keseluruhan rakyat tanpa sekat-sekat.

Bisa kita bayangkan, sebelum adanya Sumpah Pemuda, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, telah ada partai mempunyai sikap seperti itu di Nusanatara yang sedang dijajah Belanda. Tentu saja dapat kita tafsirkan bahwa itulah yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk berjuang.

Partai politik pada saat itu  kemungkinan besar merupakan sesuatu yang elite, orgaanisasi yang  terpandang sehingga mampu menyebarkan pengaruhnya. Jika kita mau jujur, partai komunis juga telah ada dan berdiri di Indonesia, yang muncul pada sekitar awal dasawarsa ketiga abad ke-20. Mungkin juga memberikan dorongan sikap kritis pada masyarakat.

Kini, satu abad kemudian, Indonesia sudah menjelma menjadi negara yang demokratis, dengan berbagai gelombangnya sejak merdeka tahun 1945. Tetapi bahwa kemudian kita mempunyai kesepakatan bersama untuk bertindak secara demokratis, seperti yang terlihat dalam pemilu-pemilu yang sudah lewat, menandakan napas pengaruh sejak dasawarsa ketiga  awal abad ke-20 itu masih kuat.

Jelas pengaruh Eropa ada pada pemikiran politik di Indonesia. Demokrasi adalah Barat dan pemilu adalah Barat juga. Tetapi harus kita ingat, Indonesia pun mempunyai tradisi demokrasi juga. Sebagian dari praktik desa adat di Bali adalah demokrasi, yaitu kesepakatan untuk memilih bersama dan kesepakatan untuk membuat peraturan (awig-awig). Tentu kita temukan hal ini di wilayah budaya lain juga.

Hanya, kritik paling besar dari demokrasi kontemporer Indonesia sekarang, adalah cenderung memaksakan diri untuk menang. Atau cenderung menentang kekalahan. Bagi demokrasi, itu tidak boleh dilakukan. Politik demokrasi adalah mengalir dengan segala kemenangan dan kekalahannya, dan karena itulah maka kita harus menerima dua kenyataan tersebut.

Baca juga:  Golkar Putuskan Airlangga Hartarto Jadi Ketua Umum 

Bahwa dalam beberapa pemilu belakangan, kita bertengkar dan saling menghancurkan, itu menandakan kita masih belum mampu menyerap demokrasi secara utuh. Pada titik inilah harus dipelajari semangat terbentuknya partai politik di Indonesia pada dasawarsa ketiga abad ke-20.

Inspirasi apa yang dikeluarkan oleh Partai Nasionalis Indonesia, dan mengapa harus mencantumkan nasionalis di depan kata Indonesia. Ini merupakan pesan yang terang benderang bahwa yang utama itu adalah nasion yang bernama Indonesia, bukan yang lain. Bahwa itu melekat pada nama partai, mempunyai makna jika partai tersebut merupakan alat perjuangan.

Pada konteks itulah, kita harus tempatkan posisi Partai Golkar sekarang yang sudah berusia 55 tahun sejak lahir tahun 1964. Tidak bisa lain, partai inilah yang paling besar dan modern di Indonesia sekarang, dengan sejarahnya yang demikian panjang dan dengan berbagai manuskrip yang masih tersiman serta dapat digali dan dipelajari langkah kebijakannya pada masa lalu.

Golkar jelas partai besar. Jika tidak nomor satu secara nasional, partai ini nomor dua dan sejak tahun 1964 selalu ada dalam pemerintahan. Begitu banyak pengalaman yang ada di partai ini.

Tentu juga Golkar adalah partai modern. Ia tidak memerlukan figur untuk hidup dan berkembang. Partai ini harus menjadi dewasa, menjaga kondusivitas internal agar dapat menjadi contoh bagi partai-partai lain yang demikian tumbuh bak jamur pada musim hujan di Indonesia. Yang paling penting sekarang bagi Golkar adalah melihat-lihat arsip untuk mempelajari kelebihan dan kekurangan agar ke depan mampu menjadi partai yang stabil dan dewasa.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.