NEGARA, BALIPOST.com – Tim arkeologi dari Balai Arkeologi Bali dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jembrana sejak tiga hari belakangan melakukan ekskavasi kerangka manusia purba yang ditemukan di Pantai Karangsewu, Gilimanuk. Kerangka manusia yang berhasil diselamatkan utuh ini diperkirakan merupakan kerangka seorang perempuan.

Selain kerangka, tim juga mendapati di lahan pinggir situs inti ini sejumlah benda peradaban manusia purba di Gilimanuk. “Tulang utuh dari kepala sampai kaki, hanya di bagian jari yang hilang karena abrasi,” ujar Kepala Balai Arkeologi Bali Wilayah Kerja Bali-NTB-NTT, I Gusti Made Suarbawa, Minggu (17/11).

Melihat struktur tulang yang diselamatkan ini, dipastikan merupakan tulang belulang perempuan. Yang menarik, menurut Suarbawa, dibagian tengkorak kepala yang masih utuh juga didapati struktur gigi yang utuh.

Bahkan gigi bagian depan terlihat seperti ditatah (dirapikan). Sehingga kesimpulan awal, tulang belulang ini merupakan perempuan dewasa.

Upaya ekskavasi ini merupakan bagian upaya penyelamatan kerangka yang ditemukan selama ini oleh masyarakat di sekitar situs inti di Gilimanuk. Khusus temuan di Pantai Karangsewu yang masuk  wilayah Taman Nasional Bali Barat (TNBB) ini memang berada di pinggir situs, tetapi masih masuk kawasan situs purbakala.

Lokasi penemuan tidak jauh dari deretan pantai Museum Manusia Purba Gilimanuk. “Ini memang dari awal kita mendapat informasi dan sekarang ini kita lakukan ekskavasi (penggalian benda purbakala) penyelamatan. Jumat (15/11) tulang sudah berhasil kita angkat dan kita titipkan di Museum,” tambah Suarbawa.

Baca juga:  Siwaratri, Gunung Agung Kembali Erupsi

Penyelamatan kerangka ini merupakan yang kesekiankalinya di situs Gilimanuk yang dulunya merupakan necropolis atau permukiman nelayan dan juga sebagai tempat pemakaman penduduk purba. Masyarakat ras Mongoloid ini berkembang dengan peradaban masa perundagian sebelum tersentuh pengaruh dari India.

Saat itu, mereka sudah mengenal alat-alat dan perhiasan baik dari perunggu (cincin dan gelang), kayu dan batu juga benda-benda seperti periuk dan gelang. Peradaban manusia ini diperkirakan bermukim antara 195 SM hingga 425 Masehi di Gilimanuk.

Selanjutnya, menurut Suarbawa, tulang belulang manusia ini nantinya bisa dijadikan tambahan koleksi di Museum Gilimanuk. Sejatinya, selain di Karangsewu, tim sejatinya juga menerima informasi dan telah mengecek di Teluk Gilimanuk.

Tetapi hanya terlihat saat air laut surut. Ini membuktikan dulunya, daratan di sekitar kawasan inti situs ini dulunya masih luas hingga ke perariran Teluk Gilimanuk. Seiring waktu, daratan tersebut berkurang akibat abrasi dan menjadi seperti saat ini. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.