Ilustrasi. (BP/dok)

Minat baca menjadi tantangan serius dalam memajukan dunia pendidikan. Padahal, membaca merupakan salah satu faktor utama dalam menuju kecerdasan. Turunnya minat baca dan terabaikannya upaya-upaya membangun budaya membaca diyakini akan memperburuk kualitas generasi muda.

Terlebih kini pola pembelajaran tak lagi menjadi sebagai rujukan utama. Metode pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan online membuat perpustakaan sekolah juga  minim pengunjung.

Maka ke depan, gerakan menuju pembudayaan minat  baca haruslah menjadi agenda strategis. Kesadaran membangun minat baca harus digaungkan di semua lini. Kita harus menyadari bahwa membaca itu penting, bahkan sangat penting.

Di sinilah peran sekolah menjadi sangat strategis untuk  membudayakan gerakan membaca. Guru tentu harus kreatif dan menyiapkan bahan pelajaran yang bisa mengajak siswa membaca untuk tahu materi yang diajarkan. Metode pembelajaran guru juga mengarah pada upaya-upaya yang terukur untuk menuju  Gerakan Literasi Sekolah (GLS) menjadi efektif.

Selain itu, sekolah harus memosisikan buku sebagai gudang ilmu yang bisa membawa kita menuju masa depan yang lebih cemerlang. Untuk itulah, sekolah harus menjadi pilihan utama dalam mengajak anak untuk gemar membaca.

Format perpustakaan sekolah mungkin bisa dibenahi agar sesuai dengan selera anak sekolah kekinian. Jika dulu modelnya sangat konvensional dengan ruang baca seadanya, maka perpustakaan sekolah harus dibenahi total. Di sinilah, inovasi pengelola sekolah diperlukan.

Dalam era kekinian, hal gerakan membaca semacam ini mesti tetap diingatkan, dilakukan, dan bahkan ditingkatkan. Namun, beberapa penelitian mengungkapkan, minat baca di kalangan siswa kita masih kalah jauh dibandingkan dengan masyarakat negara lain. Tidak mengapa.

Tidak masalah, sepanjang hal ini dimaklumi dan kemudian diupayakan cara, jalan keluar, solusi yang lebih solutif bagaimana keluar dari masalah ini. Kini, ruang untuk membudayakan minat baca sangat terbuka. Pegiat literasi tumbuh secara alamiah dan siap mendedikasikan diri untuk menuju kesadaran membaca.

Baca juga:  Di Buleleng, Sejumlah PNS dan Guru Jadi Bacaleg Belum Serahkan Surat Pengunduran Diri

Semangat ini hendaknya dikelola secara proporsional. Ketika banyak semangat untuk membangun iklim literasi di kalangan generasi muda mesti dilakukan secara sinergis. Tidak hanya oleh kalangan akademis, sekolah, kampus dan sebagainya. Tetapi juga oleh kalangan orang tua yang memang lebih banyak mendapatkan sesi waktu bersama mereka.

Di tengah gempuran gadget serta informasi dunia maya yang tidak semuanya edukatif, maka tugas menjadi tentu lebih sulit. Kemungkinan mereka menjadi generasi yang ”iliterasi” menjadi semakin terbuka. Teralinasi dari lingkungan sudah menjadi fakta yang tidak terbantahkan.

Sudah ada di depan mata dan banyak keluhan dari para orang tua, guru, serta kalangan lainnya. Belum ada langkah strategis membuat mereka beralih pada hal-hal yang lebih positif. Membiarkan mereka semakin asyik dan terasing dengan dunia maya tentu menjadi persoalan yang berbahaya.

Bacaan yang bermutu serta bergizi saja tentu tidak cukup. Mengkombinasikannya dengan kemampuan serta potensi local genius di masing-masing daerah menjadi langkah yang barang kali sangat menjanjikan. Masing-masing daerah punya kekhasan, kekayaan, serta pengalaman hidup yang tentu sangat menarik untuk dikembangkan menjadi sesuatu ramuan serta olahan edukatif.

Mereka akan menjadi sosok yang partisipatif dan evaluatif. Buku konvensional mungkin saja akan semakin tergeser oleh buku digital. Hal ini tidak bisa dihindari. tetapi kobinasi ini dengan kekayaan local genius serta local wisdom akan menjadi sangat menarik bagi mereka ketika kita bisa membuat semacam asupan menarik. Ini tentu saja sangat menarik.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.