Warga bersembahyang dan meminta air yang berasal dari pohon rambutan di tegalan milik warga. (BP/Istimewa)

TABANAN, BALIPOST.com – Warga Banjar Peneng, Desa Mekarsari, Kecamatan Baturiti, Tabanan dihebohkan adanya fenomena air yang keluar dari pohon rambutan di tegalan milik Wayan Sandeh (85). Pohon berdiameter 20 centimeter dengan ketinggian 15 meter tersebut mengeluarkan air dari daun dan ranting bagian atas pohon sejak Purnama Anggaran Umanis Wayang, Selasa (12/11).

Informasi ini dengan cepat menyebar dan membuat krama dari berbagai pelosok datang ke lokasi untuk memohon berkah suci. Mereka menganggap air dari pohon rambutan itu adalah tirta.

Bahkan menurut warga yang sempat meminum air tersebut dirasakan harum tidak seperti air tawar biasa. Tak jarang pula warga yang datang nunas air tersebut untuk selanjutnya dibawa pulang.
Menariknya, munculnya air dari pohon rambutan ini bersamaan dengan mimpi salah satu warga Banjar Peneng. Dimana dalam mimpinya, akan muncul tirta di sekitaran Pura Batur Banjar Peneng. Untuk diketahui lokasi pohon rambutan tersenyum hanya berjarak 300 meter arah selatan Pura Batur Banjar Peneng.

Dari pantauan di lapangan, Kamis (14/11), bagian batang pohon telah dibalut kain putih kuning dan dilengkapi pelinggih dari bambu untuk krama menghaturkan canang. Sementara di bagian selatan pohon dibentangkan plastik bening untuk menampung air yang jatuh dari pohon tersebut.

Padahal di lokasi tersebut banyak pohon lainnya dengan jarak yang berdekatan, namun yang mengeluarkan air hanya pohon rambutan itu saja. Keluarnya air dari pohon rambutan ini pertama kali diketahui oleh I Wayan Purna (51) pada Selasa (12/11).

Baca juga:  Karantina di SKB Banjarangkan, Paskibra Kerap Kesurupan

Saat itu ia hendak pergi ke tegalan sekitar pukul 06.00 Wita. Namun saat melintas di bawah pohon rambutan tersebut tiba tiba dirasakan ada air seperti hujan. “Saat itu iseng mau cari jagung untuk dibakar, namun pas lewat seperti hujan, tetapi di tempat lain tidak ada air, hanya di sekitaran pohon rambutan saja,” ucapnya.

Wayan Purna pun kemudian menyampaikan apa yang dilihatnya kepada pemilik tegalan.
Pemilik tegal Wayan Sandeh pun mengaku terkejut atas peristiwa ini.

Sebab sehari sebelum Purnama tidak ada muncul air dari pohon rambutan yang sudah ditanam sekitar 10 tahun tersebut. Dan sebelum menjadi tegalan kawasan ini adalah sawah. “Saya setiap hari memang ke tegalan, dan sama sekali tidak pernah muncul air,” terangnya.

Meski demikian ia berharap kemunculan air dari pohon rambutan ini merupakan berkah positif. Dan rencananya ia juga akan melakukan ‘nunasang’ namun masih menunggu petunjuk dari pihak adat.

Sementara itu banyak warga datang ke lokasi karena penasaran terhadap pohon rambutan yang keluarkan air. Bahkan aparat Desa Mekarsari juga turun ke lokasi dipimpin Perbekel Mekarsari I Wayan Darsana untuk mengecek.

Sesampai di lokasi mereka bahkan sembahyang kemudian nunas air yang dipercaya tirta tersebut. “Rasa airnya harum seperti bercampur kembang rampai (daun pandan) tidak seperti air tawar biasa,” jelasnya.

Untuk selanjutnya seperti nunas baos (mohon petunjuk) dikatakannya masih menunggu paruman dari desa adat. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.