Raja Salman saat akan turun dari pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Sabtu (4/3). (BP/ist)

Cikal bakal berkembangnya pariwisata di Bali khususnya dan di Indonesia pada umumnya adalah keunikan dan keragaman budayanya. Karena jika menyebut keindahan tempat, masih banyak tempat indah di belahan bumi sana.

Keunikan budaya inilah yang membawa nama Bali dan beberapa daerah lain di Indonesia dikenal oleh wisatawan seantero jagat. Budaya agraris (pertanian) berlandaskan agama Hindu, merupakan cikal-bakal berkembangnya pariwisata di Bali.

Berbagai adat istiadat dan kesenian yang berkembang, semua bersumber dari budaya agraris berlandaskan nilai-nilai agama Hindu. Budaya, adat, dan kesenian khas ini tidak ditemukan di daerah lain di dunia. Keunikan inilah yang membuat wisatawan dari berbagai belahan dunia tertarik datang berlibur ke Bali.

Bahkan, ada yang menganggap Bali sebagai Pulau Surga dan ingin menghabiskan sisa hidup mereka di pulau yang mendapat julukan Pulau Seribu Pura ini. Selain keunikan seni budayanya, keramahtamahan masyarakatnya menjadi pemanis hingga wisatawan betah berlama-lama tinggal di Bali. Salah satu bukti, Raja Salman Bin Abdulaziz al-Saud dari Arab Saudi sampai memperpanjang lama tinggal saat berlibur ke Bali beberapa waktu lalu.

Dengan latar belakang itu pula, Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan yang dikembangkan di Bali adalah pariwisata budaya. Pariwisata budaya yang berakar dari filosofi agama Hindu, yang ramah tidak hanya pada pelancong, tetapi semua makhluk. Konsep adiluhung ini dikenal sebagai ajaran Tri Hita Karana.

Bagaimana masyarakat Hindu Bali menjaga keharmonisan hubungan vertikal dengan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Juga menjaga keharmonisan hubungan horizontal dengan sesama umat manusia tanpa membedakan latar budaya, agama, ras dan lainnya. Kebudayaan Bali sangat menjunjung tinggi nilai-nilai multikulturalisme. Bahkan, juga keharmonisan hubungan dengan alam lingkungan. Ajaran inilah yang menopang hingga pariwisata Bali bisa berkembang dan bertahan sampai sekarang.

Baca juga:  Bali Tak Perlu "Branding" Pariwisata Halal

Fakta-fakta empiris sejarah juga mencatat, bagaimana masyarakat Bali sangat toleran, rukun, dan hidup harmonis dengan sesama, alam dan lingkungannya. Kehidupan harmonis inilah yang membuat wisatawan merasa nyaman dan betah berlama-lama tinggal di Bali menikmati alam dan budaya setempat.

Karenanya, sungguh tidak beralasan bahkan bertentangan dengan aturan (perda) tentang pariwisata budaya yang telah dibuat Pemprov Bali, jika ada keinginan untuk mengembangkan konsep pariwisata lain seperti pariwisata halal, pariwisata syariah dan lainnya di Bali. Terlebih-lebih jika ada wacana agar pariwisata Bali ramah (friendly) bagi wisatawan dari kelompok tertentu. Karena sejatinya, pariwisata budaya yang diusung Bali ramah pada semua makhluk dan alam semesta.

Pariwisata Bali yang begitu terkenal ke seantero jagat, berdampak dijadikannya daerah ini sebagai etalase perdagangan internasional bagi produk-produk yang dihasilkan daerah lain. Berbagai produk dari luar Bali dipajang di pulau kecil ini, untuk menarik konsumen wisatawan yang datang bahkan untuk ekspor.

Tetapi sebagai evaluasi, apa pun itu wacananya, termasuk bahkan sudah diklarifikasi, tetaplah harus dijadikan introspeksi bagi insan pariwisata bahkan masyarakat Bali sendiri. Mengingat, masih ada fakta-fakta terungkap terjadinya diskriminasi perlakuan terhadap wisatawan lokal (nusantara).

Bahkan, masih ada pengusiran dan pelarangan terhadap masyarakat lokal Bali sendiri yang ingin menikmati objek wisata seperti pantai oleh oknum pelaku pariwisata. Kondisi seperti ini tentu jangan sampai terjadi lagi, jika pariwisata budaya Bali memang mengedepankan keramahtamahan pada semua orang bahkan semua makhluk dan alam.

Pariwisata Bali akan ditinggalkan jika meninggalkan keramahtamahannya sebagai ciri bahkan jiwa budaya bangsa ini. Itulah keunikan sekaligus keunggulan Bali yang mengusung pariwisata budaya bernapaskan Hindu, yang tidak akan pernah habis digali dan dinikmati. Kecuali, jika pariwisata budaya itu diganti dan keramahtamahan masyarakatnya hilang.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.