Salah satu acara peringatan Hari Pahlawan digelar dengan melibatkan para veteran. (BP/dok)

10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peringatan yang berlangsung Minggu (10/11) kemarin merupakan peringatan yang ke-74 tahun. Para inspektur upacara pada peringatan tersebut, semua menekankan agar semua komponen bangsa meneladani sikap kepahlawanan mereka yang telah berjuang demi bangsa dan negara.

Para inspektur upacara yang sebagian besar kepala daerah juga mengajak semua orang menjadi pahlawan. Artinya harus berbuat sesuatu demi kejayaan bangsa ini. Hal ini merujuk pada tema Hari Pahlawan tahun ini adalah ‘’Aku Pahlawan Masa Kini’’.

Di tengah heroisme peringatan Hari Pahlawan, kita tentu juga tak bisa menutup mata bahwa bangsa ini juga berpotensi akan ancaman. Terorisme dan radikalisme adalah dua di antara sejumlah ancaman itu.

Demikian pula adanya organisasi masyarakat yang secara terang-terangan menentang Pancasila merupakan bukti nyata, bahwa Pancasila sedang menghadapi ancaman. Karenanya pemerintah jangan loyo. Pemerintah tidak boleh mundur menindak pelaku penentangan terhadap ideologi bangsa itu. Karena kehancuran bangsa akan menjadi taruhan, apabila itu tidak dilakukan.

Kalau kita amati belakangan ini, sudah ada elemen yang tidak bisa lagi dikendalikan oleh negara. Sangat berbahaya kalau pemerintah sampai terlambat menangani. Ketika ideologi sebuah negara goyah, dipastikan negara itu akan hancur.

Tidak akan ada artinya pembangunan ekonomi yang dibangun berpuluh-puluh tahun. Kalau ini terus dibiarkan akan mengancam dan menghancurkan negara yang berdasarkan Pancasila dan diwadahi oleh NKRI. Indonesia akan terpecah belah.

Untuk itu pemerintah harus tegas bersikap terhadap semua organisasi masyarakat yang anti-Pancasila. Rakyat juga harus kompak bersatu padu mendukung aparat dalam menangani atau menindak tegas ormas yang jelas-jelas memusuhi Pancasila. Sebab, memusuhi Pancasila berarti memusuhi bangsa Indonesia, warga negara Indonesia.

Baca juga:  Panji-Panji dan Surat Sakti I Gusti Ngurah Rai Diserahterimakan ke Gianyar

Kita setuju dengan keputusan Presiden Jokowi yang telah mengeluarkan perpres untuk membumikan Pancasila di negeri ini. Ini merupakan langkah nyata dalam menyiapkan satu sistem dan strategi untuk membumikan nilai-nilai Pancasila di tengah-tengah masyarakat secara benar.

Pengamanan terhadap Pancasila tentu tidak bisa dilepaskan dari generasi muda. Mereka harus dilibatkan sejak awal. Pengaman Pancasila tidak semata berarti melawan mereka yang anti-Pancasila. Bukan! Penanaman nilai-nilai Pancasila pada setiap pribadi juga merupakan langkah pengamanan Pancasila.

Untuk itu, penting dilakukan adalah memasukkan Pancasila di dunia pendidikan. Penanaman nilai-nilai Pancasila harus benar-benar terakomodasi dalam kurikulum. Jangan sekadar ada. Tetapi benar-benar diajarkan dan bisa secara langsung diaplikasikan. Baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat umum, lembaga maupun organisasi.

Metodologinya juga jangan monoton. Harus dinamis dan disesuaikan dengan adat budaya setempat, sehingga lebih mudah dipahami dan diterima masyarakat. Misalnya dengan pendekatan kultural, sehingga menjadi bagian dari perilaku kehidupan masyarakat sehari-hari. Tidak perlu dengan cara penyeragaman.

Dalam membumikan Pancasila, tentu kalangan agama tak bisa diabaikan. Semuanya harus diajak secara bersama-sama. Sebab, para tokoh agama akan bisa menyarikan dan menyesuaikan dengan kaidah-kaidah agama yang dianut, sehingga tidak ada pertentangan antara agama dan Pancasila.

Karena pada dasarnya Pancasila lahir dari bumi Indonesia yang penduduknya berlatar belakang religius. Untuk itu, semua penduduk wajib mempertahankan Pancasila dan membela Pancasila, apabila ada yang ingin mengganggu, apalagi menghilangkan dari bumi Indonesia.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.