Mungkin tak hanya para kepala sekolah yang merasa senang ketika tunjangan mereka dinaikkan hampir 300 persen lebih. Para keluarga kepala sekolah dan guru-guru tentu termotivasi untuk menjadi kepala sekolah.

Namun motivasi untuk menjabat bukan karena tunjangan semata tetapi memang layak dan pantas menjadi kepala sekolah. Untuk itu pemilihan kepala sekolah juga harus benar-benar berdasarkan kecakapan, bukan karena kedekatan.  Jika kepala sekolah lahir dari proses kedekatan, saya yakin sekolah akan tak terurus dan potensi terjadinya penyimpangan akan terbuka.

Untuk itu, tunjangan para kepala sekolah hendaknya sejalan dengan kualitas kepemimpinan kepala sekolah. Jika kepala sekolahnya tak becus maka saya yakin ada sekolah yang muridnya tidak disiplin dan guru-gurunya juga malas mengajar. Terlebih, jika pengelolaan keuangan sekolah tak dilakukan secara transparan.

Baca juga:  Dinas PU-PR Buleleng Kembalikan DAK Rp 7,43 Miliar, Ini Dalihnya

Untuk itu, mohon Bapak Gubernur juga meminta pengawas sekolah lebih tegas menindak sekolah yang tak disiplin, bukan malah main mata dengan kepala sekolahnya. Gubernur mesti membuka pengaduan khusus terkait kinerja kepala sekolah, agar masyarakat bisa berpartisipasi mengadukan kualitas pendidikan.

Kotak pengaduan khusus ini hendaknya ditangani oleh orang yang berintegritas, sehingga bebas dari kepentingan subjektivitas. Yang jelas, kebijakan di sektor pendidikan ini tentu menjadi harapan baru bagi banyak pihak setidaknya dalam peningkatan mutu manajemen kepemimpinan di sekolah setingkat SMA/SMK/SLB di wilayah Provinsi Bali.

I Wayan Arsana

Gianyar, Bali

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.