pengungsi
Siswa sedang mengikuti proses belajar mengajar. (BP/dok)

Dunia pendidikan belakangan dituding melahirkan banyak pengangguran. Dunia pendidikan yang berorientasi pada gelar akademik telah memproduksi  jutaan pengangguran di negeri ini.  Adaptasi teori dengan lapangan kerja juga tak sejalan.

Ironisnya, setelah 74 tahun Indonesia merdeka, Indonesia tak memiliki sistem pendidikan yang baku. Sistem pendidikan ‘’selera’’ menteri justru lebih kuat. Kebijakan sang menteri menjadi rujukan bersama. Upaya-upaya perbaikan sektor pendidikan tersandera pergantian kekuasaan.

Kini diera milenial kebijakan pendidikan mestinya berorientasi pada hal-hal yang lebih strategis dalam artian, dunia pendidikan mesti menyiapkan kader bangsa menuju kecerdasan serta terakomodasinya kecakapan profesi.

Daya saing lulusan mestinya menjadi rujukan, bukan sekadar mengantongi gelar akademis. Mungkin ada baiknya pemerintah melalui  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melakukan evaluasi total terhadap berbagai kebijakan pendidikan yang  ada saat ini. Bukan saja dari jumlah lembaga pendidikan, tetapi juga berorientasi pada kualitas lembaga pendidikan di negeri ini.

Harapan baru itu mungkin telah dimulai dengan diangkatnya menteri muda  Nadiem Makarim mengurusi sektor pendidikan. Terobosan presiden mengangkat Nadiem Makarim sebagai  Mendikbud tentu harus di apresiasi, tetapi juga tetap harus dicermati. Diapresiasi mungkin, karena kecerdasannya dalam melakukan terobosan pasar lewat teknologi.

Selain itu, menteri muda ini juga diharapkan mampu membangun kompetensi dan koneksi lulusan lembaga pendidikan Indonesia dengan pasar global yang ada. Jika selama ini lulusan lembaga pendidikan juga gagal merebut pasar kerja di dalam nengeri, apalagi bersaing merebut peluang kerja di luar negeri. Artinya, dengan gaya milenial dengan kecerdasan menyiapkan  perkembangan zaman, hadirnya Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kita harapan membawa perubahan besar.

Baca juga:  Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Namun kegalauan banyak pihak dengan menteri yang relatif muda dengan minim latar belakang di dunia pendidikan dalam nengeri, juga patut dicermati. Perubahan besaran yang diharapkan pada dunia pendidikan tentu akan berhadapan dengan banyak asumsi dan logika berpikir.

Terlebih kini Pendidikan Tinggi (Dikti) kembali menjadi urusan  Kemendikbud. Dengan beragam jurusan dan kualitas PT yang ada, tentu bukan hal yang mudah mengharapkan perubahan segera terjadi. Komunikasi harus dibangun dan persamaan persepsi harus dituju. Jangan sampai harapan perubahan menimbulkan konflik.

Kembali pada kecakapan profesi lulusan, tampaknya kita sangat sepakat jika kecakapan profesi itu dibangun sejak dini. Kemampuan beradaptasi dan memahami dunia luar sejak dini memang harus disiapkan.

Maka pembelajaran bahasa Inggrs akan menjadi pelajaran di tingakt sekolah dasar kita sangat mendukungnya. Selama ini banyak lulusan sarjana kita gagap bahasa Inggris sehingga mereka hanya bersaing di wilayah NKRI. Jika penguatan bahasa dibentuk sejak dini, maka mentalitas untuk menghadapi dinamika zaman juga terbangun.

Untuk itulah kebijakan baru untuk pembenahan pendidikan utamanya dalam penanganan pembelajaran Bahasa Inggris di SD memang perlu dilakukan sesegera mungkin agar apa yang menjadi kebingungan berbagai pihak di sekolah segera teratasi.

Pencapaian tujuan utama belajar Bahasa Inggris yang menjadi penegasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan baru, yakni kefasihan berbahasa Inggris sebagai bahasa utama di zaman milenial hendaknya dibangun sejak dini, karena landasan pendidikan hendaknya dikokohkan di tingkat dasar agar pada tingkat-tingkat di atasnya pembelajaran menjadi lebih baik dan mapan. Hanya melalui fondasi pendidikan yang hebat bisa membawa Indonesia pada kemajuan pesat.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.