SEMARAPURA, BALIPOST.com – Memasuki akhir tahun, kunjungan wisatawan ke Nusa Penida mengalami penurunan drastis. Dinas Pariwisata Klungkung cukup kaget melihat tren ini.

Padahal, berbagai upaya sudah dilakukan. Mulai dari perbaikan infrastruktur, promosi ke luar negeri hingga pelaksanaan Festival Nusa Penida pada awal Oktober 2019.

Kepala Dinas Pariwisata Klungkung Nengah Sukasta, Jumat (1/11), mengatakan bahwa tren penurunan biasanya jarang terjadi dalam periode Oktober-November. Turunnya kunjungan juga berimbas pada nilai retribusi terhadap wisatawan asing.

Data Dinas Pariwisata menunjukkan, jumlah pendapatan pada awal Oktober mencapai Rp 49 juta per hari. Bahkan, sempat menyentuh angka Rp 66 juta per hari. Tetapi, memasuki akhir Oktober, jumlah retribusi tercatat sampai 31 Oktober, turun menjadi Rp 38 juta. Total, selama Oktober pendapatan retribusi yang masuk mencapai Rp 1,3 miliar.

Guna memaksimalkan perolehan dana retribusi ke Nusa Penida, Dinas Pariwisata berencana menambah lagi titik-titik lokasi pemungutan. Misalnya, di sejumlah objek wisata lain yang sudah tersentuh penataan.

Ini diperkirakan akan mampu memaksimalkan nilai pungutan, karena masih banyak pintu masuk Nusa Penida yang belum disediakan tukang pungut, lantaran terbentur aturan tidak boleh lagi merekrut tenaga kontrak sebagai tukang pungut di lapangan. “Kami berharap memasuki Januari nanti, kunjungan wisatawan ke Nusa Penida bisa naik lagi,” kata Sukasta.

Baca juga:  Hari Ini, Rocky N, Ayu Wiryastuti, Galuh Bilen, Widi-Widiana dan Rare Kual Siap Tutup FTF 2017

Sedangkan, mengenai menurunnya kunjungan, Sukasta mengatakan akan meningkatkan upaya promosi. Ini sejalan dengan instruksi Bupati Klungkung Nyoman Suwirta.

Meskipun pariwisata Nusa Penida telah berkembang pesat, namun kegiatan promosi dan branding harus tetap dilakukan melalui ragam egiatan semacam festival. Bupati Suwirta mengingatkan untuk tidak hanya mengandalkan potensi laut dalam membangun pariwisata. Juga bisa dengan mengembangkan sektor kerajinan UKM.

Menurutnya, industri pariwisata sangat sensitif terhadap isu-isu seperti terorisme, wabah penyakit, bencana alam dan lainnya yang tidak bisa diprediksi kejadiannya. “Jangan menggantungkan hidup sepenuhnya pada pariwisata saja. Bidang lain seperti pertanian dan petenakan hendaknya juga tetap dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Karena jika suatu saat pariwisata alami goncangan, maka ekonomi tidak ikut akan jatuh,” ujar Bupati Suwirta. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.