BANGLI, BALIPOST.com – Bencana kebakaran lahan dan hutan rawan terjadi saat musim kemarau seperti sekarang. Berdasarkan data BPBD Bangli, sepanjang musim kemarau tahun ini sedikitnya telah terjadi belasan kali peristiwa kebakaran lahan dan hutan di Kintamani.

Diperkirakan, musim kemarau akan berakhir awal November mendatang. Masi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli Ketut Agus Sutapa seizin Kalak BPBD Wayan Karmawan, Senin (28/10) mengatakan, musim kemarau mulai melanda Bangli sejak Agustus. Sesuai data yang dimilikinya, sejak Oktober tercatat terjadi 16 kali musibah kebakaran lahan dan hutan di wilayah Bangli dan Kintamani.

Luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai lebih dari seratus hektare. Sebagian besar lahan yang terbakar merupakan milik warga.

Kebakaran paling luas terjadi di wilayah Penelokan, Desa Batur Tengah yang mencapai 80 hektare. Selain lahan warga, kebakaran juga melanda hektaran hutan yang dikelola Dinas Kehutanan Provinsi Bali dan BKSDA.

Dikatakan Agus berdasarkan buletin BMKG yang diterima pihaknya, hujan untuk Wilayah Bali Timur diperkirakan akan mulai terjadi awal November dengan curah hujan rendah-sedang. Selain membawa berkah, menurutnya saat musim hujan nanti tidak menutup kemungkinan akan berdampak terjadinya bencana. “Melihat data dan pengalaman yang terjadi biasanya dampak kejadian yang rentan timbul dari peralihan kemarau ke hujan adalah adanya longsoran,” ujarnya.

Baca juga:  Musim Kemarau, BKSDA akan Tambah MPA di Kintamani

Karenanya pihaknya mengimbau masyarakat untuk mewaspadai wilayah-wilayah yang selama ini rawan longsoran. Untuk di Kecamatan Bangli, beberapa wilayah yang harus diwaspadai yakni jalur Bunutin/Selati menuju Gianyar dan Desa Pengotan (Dusun Penyebeh-Padpadan). Sementara di Susut, wilayah rawan longsor ada di Desa Demulih dan Susut.

Di Tembuku, jalur Tembuku-Rendang dan Kintamani di Bayung Gede, Songan, Awan serta jalur menuju Terunyan. Hujan nanti juga akan tidak menutup kemungkinan disertai kilatan petir. Untuk itu perlu juga diwaspadai agar saat hujan warga tidak banyak berakitivitas di tanah lapang. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.