DENPASAR, BALIPOST.com – Nuansa kekinian kental mewarnai pembukaan Festival Seni Bali Jani di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center, Sabtu (26/10) malam. Latar panggung yang sebetulnya klasik mendapat sentuhan modern berupa video mapping.

Menariknya lagi, Gubernur Bali Wayan Koster mengenakan kacamata khusus karena harus mengayunkan pedang laser pada efek cahaya tersebut. Inilah yang menandai pembukaan festival seni pertama guna mewadahi kesenian inovatif, modern ataupun kontemporer itu.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan “Kun” Adnyana mengatakan, Festival Seni Bali Jani adalah jawaban atas mimpi-mimpi dan harapan komunitas seni modern, kontemporer dan karya inovatif di seluruh Bali. Karena selama ini, komunitas-komunitas tersebut belum mendapat ruang yang sempurna untuk menampilkan karya-karyanya.

“Festival Seni Bali Jani merupakan jawaban dari mimpi panjang itu dan kebetulan Pemprov Bali menjadikan pemajuan kebudayaan sebagai prioritas keempat visi pembangunan provinsi Bali 2018-2023,” ujarnya.

Kun menambahkan, festival tahun ini mengusung tema HULU-TEBEN, Dialektikal Lokal-Global. Ada 6 jenis materi kegiatan dalam festival yang berlangsung mulai 26 Oktober hingga 8 November mendatang. Yakni, Pawimba (lomba), Aguron-guron (workshop), Adilango (pergelaran), Kandarupa (pameran), Tenten (pasar malam seni) dan Timbang Rasa (sarasehan). Secara keseluruhan, pagelaran Festival Seni Bali Jani diikuti 1.692 seniman muda di seluruh Bali.

“Harapannya ini sebagai panggung, sebagai ajang kontestasi, sebagai ajang pagelaran, untuk menunjukkan kualitas bahwa Bali terus bergerak dalam arena kreativitas dan karya kreatif tanpa batas,” jelasnya.

Baca juga:  Koster-Ace Usung Kampanye Simpatik, Berbudaya, Bermartabat dan Kedepankan Kepentingan Bali

Gubernur Bali Wayan Koster menggagas Festival Seni Bali Jani setelah berdiskusi dengan para ahli dan pelaku seni di Bali. Festival ini pertama kali digelar sebagai wujud kepedulian terhadap perkembangan seni modern dan kontemporer.

Sebab, seni tradisi telah mendapat ruang untuk berkembang melalui Pesta Kesenian Bali yang dilaksanakan rutin setiap tahun. Di sisi lain, Koster juga mengajak generasi muda untuk bersama-sama mengambil peran dan tanggung jawab dalam memajukan seni dan budaya di Pulau Dewata.

Tujuannya untuk memperkuat kohesi dan ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi perubahan dinamis yang penuh dengan tantangan dan permasalahan di era global saat ini maupun di masa yang akan datang. “Saya sangat berharap kedepannya seni modern tidak saja berkembang hanya untuk kemajuan seni itu sendiri. Tapi juga membuka ruang dengan dimensi baru,” ujarnya.

Koster menambahkan, dimensi baru yang dimaksud yakni munculnya industri ekonomi kreatif berbasis budaya branding Bali untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Bali secara berkelanjutan. Selain itu, Festival Seni Bali Jani juga diharapkan dapat menjadi tonggak kebangkitan kesenian modern dan kontemporer yang dicintai dan dibanggakan oleh para generasi muda. “Kini Bali memiliki dua wahana pembinaan seni, yaitu Pesta Kesenian Bali dan Festival Seni Bali Jani,” imbuhnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.