DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan “Kun” Adnyana, Selasa (22/10) mengatakan, Festival Seni Bali Jani mengusung tema “Hulu-Teben, Dialektikal Lokal- Global.” Ada 5 konsep yang disajikan, yaitu Eksplorasi, Eksperimentasi, Lintas-batas, Kontekstual dan Kolaborasi.

Kemudian, ada 6 jenis materi kegiatan di dalamnya yakni Pawimba (lomba), Aguron-guron (workshop), Adilango (pergelaran), Kandarupa (pameran), Tenten (pasar malam seni) dan Timbang Rasa (sarasehan). Untuk lomba, ada 13 jenis yang terdiri dari lomba Baca Puisi Tingkat SD, Baca Puisi Tingkat SMP, Baca Puisi Tingkat SMA/SMK, Musikalisasi Puisi, Cerita Pendek tingkat SMA/ SMK, Cerita Pendek Tingkat Umum, Teater Modern, Desain Busana Malam Modern Bernuansa Bali, Stand Up Komedi Bali, Film Pendek, Kartun Opini, Seni Instalasi Outdoor dan Desain Logo Festival Seni Bali Jani.

Kegiatan Aguron-goron menampilkan 4 jenis workshop yaitu Manajemen Seni, Penulisan Kritik Seni, Cipta Puisi, dan Tata Rias Karakter. Kegiatan Kandarupa juga ada 4 ragam, yaitu Pameran Photo dan Kartun (Memorabilia), Seni Rupa (Instalasi Outdoor), Buku Sastra dan Seni serta Pameran Desain.

Sementara Tenten menghadirkan 3 jenis pasar malam seni, yaitu Kuliner (Anak Muda) Kreatif Berbasis Tradisi sejenis Komunitas Food Truck, Perusahaan Anak Muda (dikaitkan dengan industri kreatif) yang melibatkan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Bali dan Pasar Seni.

Baca juga:  Atraksi Sakral Jangan Dibawa ke Pariwisata

Untuk kegiatan Adilango menampilkan 39 jenis pagelaran, sehingga dalam satu hari ada 4 sampai 5 pertunjukan. Jenis pagelaran itu, seperti Gelar Seni Kolaborasi Kolosal (Pembukaan), Komedi Stambul, Parade Pertunjukan Baca Puisi, Gelar Musikalisasi Puisi, Gelar Teater Modern/ Kontemporer, Fashion Desain Show, Gambelan Kontemporer, Tari Kontemporer, Wayang Kontemporer, Musik Pop Bali, Pemutaran Film Pendek Pemenang Lomba, Apresiasi Seni Sastra, Video Mapping dan Gelar Seni Kolaborasi Kolosal (Kelompok Penyair, Teater, Perupa, Penari dan Musisi dengan memanfaatkan Teknologi) dan acara penutupan.

Untuk kegiatan Timbang Rasa, atau sarasehan mengangkat tema “Menuju Bali Pusat Seni Kontemporer Dunia” dengan menyajikan 3 Sub Tema yaitu Strategi Pemanggungan Seni Pertunjukan Kontemporer Kelas Dunia, Membaca Posisi Bali dalam Medan Seni Rupa Kontemporer Dunia dan Tradisi Kreatif, dan Penerbitan Sastra Kontemporer Bali. Sarasehan mengundang peserta dari kalangan seniman, budayawan dan mahasiswa dengan narasumber Dr. Hilmar Farid (Direktur Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), Putu Fajar Arcana (Editor Budaya Harian Kompas), Nyoman Nuarta (Pematung), dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M. Lit. (Guru Besar Unud). (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.