BANGLI, BALIPOST.com – Meski baru menyandang status sebagai desa wisata setahun lalu, Desa Catur berhasil menorehkan prestasi yang membanggakan. Desa yang terletak di Kecamatan Kintamani itu ditetapkan sebagai juara II dalam lomba desa wisata yang digelar Pemerintah Provinsi Bali, belum lama ini.

Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari semangat dan inovasi pemerintah desa serta masyarakat setempat dalam menggali dan mengangkat segala potensi yang dimiliki. Perbekel Desa Catur I Made Agus Antara mengungkapkan Desa Catur ditetapkan sebagai desa wisata berdasarkan SK Bupati Bangli tahun 2018.

Sejak menyandang status desa wisata, pihaknya bergerak membentuk kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan badan pengelola pariwisata. Bersama masyarakat pihaknya terus berupaya mengangkat potensi alam yang ada untuk menjadi daya tarik wisatawan.

Dalam mengangkat dan mengembangkan potensi wisata, pihaknya menjalin kerjasama dengan sejumlah universitas dan sekolah tinggi pariwisata. Beberapa potensi yang selama ini telah berhasil dikembangkan dan mampu menjadi daya tarik wisatawan, salah satunya tracking.

Agus Antara mengatakan panjang lintasan tracking yang disediakan bagi wisatawan yang menyukai wisata berkeliling desa kurang lebih 1-6 km. Jalurnya melewati perkebunan kopi warga.

Sebagaimana yang diketahui, Desa Catur terkenal sebagai salah satu desa penghasil kopi Kintamani terbaik. Hamparan kebun kopi di desa itu sangat luas.

Disamping itu, potensi air terjun yang ada di dua lokasi, juga ditata dan dikembangkan. “Selain alam, alkulturasi budaya Hindu-Budha juga kita tonjolkan untuk menjadi daya tarik wisata,” terangnya

Desa Wisata Catur juga menonjolkan keberadaan homestay. Disebutkan Agus Antara, jumlah home stay yang tersedia di Desa Wisata Catur sekitar 40-45 unit.

Keberadaan homestay mampu menjadi daya tarik, karena tak hanya bisa menginap, wisatawan juga bisa beraktivitas serta berbaur langsung dengan masyarakat pedesaan. Tentu sensasi terssebut tidak mudah didapatkan wisatawan di tempat lainnya. “Rumah-rumah warga kita fungsikan sebagai homestay. Kenapa rumah warga kita fungsikan, karena otomatis warga akan mendapat hasilnya sendiri,” jelasnya.

Baca juga:  Nusa Penida Jadi Prioritas Nasional Pengembangan Desa Wisata

Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat di bidang pariwisata, pihak desa pun terus melakukan upaya pemberdayaan serta pelatihan tentang pariwisata. “Bagaimana masyarakat itu mampu dalam memberikan pelayanan terhadap wisatawan yang menginap di rumahnya. Rumah tidak harus bagus. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan,” ujarnya.

Daya tarik lainnya yang dimiliki Desa Wisata Catur, adalah adanya pengembangan tanaman herbal. Agus Antara mengatakan saat ini Desa Wisata Catur sudah punya kebun induk khusus untuk tanaman herbal.

Ada 160 jenis tanaman herbal yang dikembangkan di sana. Tanaman herbal tersebut telah diolah masyarakat yang tergabung dalam kelompok wanita tani (KWT) menjadi aneka macam produk obat.

Pengembangan tanaman herbal ini juga berhasil menghantarkan Desa Catur keluar sebagai juara III dalam lomba Toga yang digelar Pemerintah Provinsi Bali tahun 2019 ini. “Ke depan kami ingin Desa Catur menjadi desa wisata herbal, sesuai petunjuk bupati. Dengan terwujudnya desa wisata herbal, nanti Desa Catur otomatis menjadi tujuan wisata dan studi tiru luar daerah,” terangnya.

Dalam mengembangkan desa Wisata Catur, Agus Antara mengakui ada banyak tantangan yang dihadapinya. Utamanya datang dari masyarakat. Di awal-awal upaya pengembangan desa wisata, banyak tokoh yang tidak setuju dan meragukan hasil dari pengembangan Catur sebagai desa wisata. “Tapi dengan semangat, kami terus beri pemahaman bagaimana membangun desa. Apa yang kami lakukan ini adalah pondasi buat anak cucu kita kedepan. itu prinsip saya,” kata Agus.

Ke depan rencananya Desa Wisata Catur juga akan mengembangkan wisata spiritual tempat penglukatan Tirta Pebini. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.