tari
Terlihat seorang penari membawakan tari sakral Legong Sri Sedana saat puncak prosesi Ngusaba Dalem di Pura Dalem Gede, Desa Pakraman Peliatan, Selasa (25/4). (BP/nik)

Oleh Agung Kresna

Adanya keputusan bersama tentang penguatan dan perlindungan tari sakral Bali, bagai angin sejuk dalam komitmen mengawal Bali yang terus digulirkan Gubernur Bali Wayan Koster. Tari sakral Bali yang berkaitan erat dengan ritual serta diciptakan untuk dipentaskan saat ada upakara agama di tempat sakral, seringkali ditampilkan di sembarang tempat untuk kepentingan pariwisata yang lebih bersifat komersial atau bahkan dijadikan alat untuk mendapatkan penghargaan seperti rekor Muri.

Tentu saja hal ini menjadi keprihatinan banyak pihak, karena telah menimbulkan degradasi adat dan budaya Bali melalui pariwisata. Gemerlap pariwisata Bali bak lentera malam yang mengundang ribuan anai-anai mengerubunginya.

Ada suatu daya tarik luar biasa yang mengundang banyak pihak untuk mendatanginya. Bagi para investor, bagaikan semut melihat tumpukan gula manis yang mengundang. Ada potensi ekonomi yang dapat digali dalam pertumbuhan pariwisata Bali dari tahun ke tahun. Banyak pihak asing tertarik berinvestasi sarana pariwisata di Bali.

Hotel berbintang lima dan berbagai fasilitas pariwisata berkelas internasional merebak di seantero Pulau Bali. Investor nasional maupun asing mencium aroma dolar yang dapat digali dari urusan pariwisata Bali. Akomodasi pariwisata menjadi bidang yang paling diincar oleh para investor. Aneka akomodasi pariwisata tumbuh menjamur, dibangun di pelosok Bali. Hampir semua objek wisata yang memiliki nilai eksotis tidak luput dari serbuan para investor.

Sayangnya euforia terhadap pariwisata ini telah membuat Bali tidak pernah memiliki langkah berani dan komprehensif dalam menyelesaikan permasalahan sustainable tourism yang dihadapi pariwisata Bali saat ini. Imbas negatif pariwisata seringkali masih terabaikan. Dari sampah plastik, kerusakan alam dan tata ruang lingkungan, hingga degradasi adat dan budaya Bali. Bahkan banyak pihak yang melihat konsep filosofi hidup krama Bali Tri Hita Karana justru mulai terdegradasi.

Degradasi Pariwisata

Ada yang terlupakan dalam mengundang investasi di Pulau Bali. Acapkali terjadi investasi yang hanya memberi keuntungan pihak investor semata. Pembangunan sebagai rentetan rangkaian investasi sudah selayaknya dapat membangkitkan ekonomi krama Bali. Pembangunan pariwisata yang berlangsung di Pulau Bali harus memberi dampak positif pada tumbuhnya simpul-simpul ekonomi baru di seluruh pelosok Bali.

Imbas positif ini tidak harus selalu berupa insentif ekonomi. Bisa juga dalam wujud pembentukan karakter manusia Bali, atau tumbuhnya jiwa entrepreneurship di kalangan krama Bali. Namun setidaknya dapat direduksi kemungkinan munculnya kerusakan alam, budaya, dan adat istiadat budaya Bali. Sehingga dapat tercipta sustainable tourism, bukan pariwisata yang menimbulkan degradasi budaya dan lingkungan.

Pariwisata memang memiliki rantai multiplier effect ekonomi paling panjang. Banyak pihak menjadi terlibat dan mendapat imbas pembangunan pariwisata, positif maupun negatif. Sehingga kita justru harus berhati-hati dalam membangun pariwisata Bali. Menurunnya daya dukung alam dan adat budaya Bali, rusaknya tata ruang wilayah, ataupun degradasi dalam tatanan sosial-budaya krama Bali adalah contoh imbas buruk yang harus kita hindari bersama.

Pariwisata Bali tidak hanya terkait lingkungan dan ekonomi semata. Tidak cukup hanya masalah hotel beserta akomodasi dan infrastrukturnya. Namun ada pertanian, industri kreatif, seni budaya krama Bali, pedagang pasar, hingga developer, dan bahkan masalah sampah. Sejauh mana ekonomi pariwisata Bali memberi dampak positif kepada seluruh pemangku kepentingan yang ada, utamanya bagi kehidupan kesejahteraan keseharian krama Bali.

Baca juga:  Kondisi Pariwisata Bali Belum Pulih

Tolok ukur keberhasilan pembangunan Bali tidak cukup hanya diukur dengan adanya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. PAD memang menjadi modal daerah guna membangun wilayahnya. Namun jika pembangunan yang dilakukan tidak dapat memberi dampak positif bagi tatanan sosial, ekonomi dan adat budaya Bali, maka sebenarnya investasi dalam pembangunan tersebut adalah sia-sia belaku.

Pembangunan pariwisata Bali sudah seharusnya bermanfaat bagi semua pihak. Tidak cukup hanya mendatangkan keuntungan bagi investor, namun juga harus memberi dampak positif bagi adat budaya dan alam Bali beserta segenap krama Bali di dalamnya. Agar yang terjadi adalah Bali yang dibangun, bukan semata pembangunan yang dikerjakan di Pulau Bali. Ada beberapa catatan yang harus menjadi perhatian kita semua.

Pertama, meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat Bali atau yang sering digambarkan sebagai Human Development Index. Pembangunan pariwisata Bali harus benar-benar membangun manusia Bali seutuhnya. Ujung akhir dari hasil pembangunan Bali adalah membentuk kesejahteraan lahir dan batin segenap krama Bali. Bukan sekedar menciptakan seantero Pulau Bali menjadi kawasan yang modern, gemerlap dan megah secara fisik semata.

Kedua, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) krama Bali. Masuknya investor berkelas nasional atau bahkan internasional dalam berbagai jenis pembangunan di Bali, tentu memicu semakin tingginya kompetisi SDM yang terlibat. Kehadiran institusi industri pariwisata asing dengan manajemen berkelas dunia, tentunya membuka peluang terjadinya transfer of knowledge bagi SDM lokal. Kondisi ini harus dapat membentuk SDM krama Bali yang semakin berkualitas, guna meningkatkan nilai daya saingnya.

Ketiga, terjaganya filosofi Tri Hita Karana. Apapun bentuk pembangunan pariwisata yang dilakukan di Bali, filosofi ini harus tetap hidup dan lestari di keseharian kehidupan masyarakat Bali. Hilangnya nafas filosofi Tri Hita Karana di Bali sama dengan hilangnya jati diri krama Bali. Filosofi ini melambangkan kesejahteraan rohani Bali. Kesejahteraan ekonomi yang melimpah bagi krama Bali menjadi tidak ada artinya sama sekali jika Tri Hita Karana hilang dari sanubari krama Bali.

Make a better life for krama Bali. Kalimat itu barangkali yang paling tepat untuk menggambarkan tujuan akhir yang harus diperoleh dari deru investasi pembangunan pariwisata yang melanda Bali. Percuma saja jika investasi jutaan dolar yang menghadirkan kemegahan pembangunan fisik di Bali hanya menjadikan segenap krama Bali sebagai penonton yang terkagum-kagum menyaksikannya. Atau malah sekadar menjadikan gemerlap hasil pembangunan fisik di Bali sebagai latar belakang ajang self photo alias selfie.

Penulis, Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali, tinggal di Denpasar.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.