Objek wisata Pantai Mahagiri, Desa Jungutbatu,Nusa Lembongan. (BP/dok)

Pariwisata sampai saat ini masih dianggap salah satu pendorong ekonomi baik nasional maupaun lokal. Pariwisata tak hanya bergerak ke sektor industri, juga telah menjadi salah satu disiplin ilmu.

Itu artinya, harapan terhadap sektor ini sangatlah kuat dan besar. Namun sering kali kesalahan mengelola sektor ini akan berdampak serius pada upaya-upaya pelestarian budaya, lingkungan dan kesinambungan ekosistem. Pariwisata juga sangat mungkin mendobrak peradaban jika langkah kita membentengi diri dalam konteks pengawalan budaya tak kuat.

Sebagai potensi tumbuhnya ekonomi dan kecakapan pengembangan profesi, sektor ini tentu memang layak menjadi semacam rujukan. Disiplin ilmu kepariwisataan yang kini diajarkan di banyak kampus tentu bermuara pada lahirnya tenaga-tenaga profesional di bidangnya.

Ilmu terapan kepariwisataan diharapkan mampu melahirkan orang-orang profesional di bidangnya. Kecakapan profesi inilah yang diharapkan bisa membangun kesamaan persepsi dalam mengelola kepariwisataan.

Yang jelas, pengelolaan sektor pariwisata tentu tak semuanya kita harapkan bergerak dijalur positif. Tantangan pengembangan keperiwisataan  juga harus dipikirkan dan dicarikan solusinya.

Ketika pariwisata diharapkan bergerak pada pengelolaan pariwisata berkelanjutan, maka kajian-kajian dan seni melakukan pengelolaan pariwisata haruslah terukur. Data juga harus menjadi rujukan.

Bagi Bali imbas positif ini tidak harus selalu berupa insentif ekonomi. Bisa juga dalam wujud pembentukan karakter manusia Bali, atau tumbuhnya jiwa entrepreneurship di kalangan krama Bali. Namun setidaknya dapat direduksi kemungkinan munculnya kerusakan alam, budaya, dan adat istiadat budaya Bali.

Baca juga:  Regulasi Khusus Mengelola Pariwisata

Sehingga dapat tercipta sustainable tourism, bukan pariwisata yang menimbulkan degradasi budaya dan lingkungan. Pariwisata memang memiliki rantai multiplier effect ekonomi paling panjang. Banyak pihak menjadi terlibat dan mendapat imbas pembangunan pariwisata, positif maupun negatif.

Sehingga kita justru harus berhati-hati dalam membangun pariwisata Bali. Menurunnya daya dukung alam dan adat budaya Bali, rusaknya tata ruang wilayah ataupun degradasi dalam tatanan social budaya krama Bali, adalah contoh imbas buruk yang harus kita hindari bersama.

Tolok ukur keberhasilan pembangunan Bali tidak cukup hanya diukur dengan adanya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semata. PAD memang menjadi modal daerah guna membangun wilayahnya. Namun jika pembangunan yang dilakukan tidak dapat memberi dampak positif bagi tatanan sosial, ekonomi dan adat budaya Bali, maka sebenarnya investasi dalam pembangunan tersebut adalah sia-sia belaka.

Pembangunan pariwisata Bali sudah seharusnya bermanfaat bagi semua pihak. Tidak cukup hanya mendatangkan keuntungan bagi investor, namun juga harus memberi dampak positif bagi adat budaya dan alam Bali beserta segenap krama Bali di dalamnya.

Kini nuansa digitalisasi industri pariwisata, utamanya kinerja pemasaran semakin masif. Inilah yang juga harus dicermati.

Lahirnya sarjana-sarjana kepariwisataan haruslah mampu membangun keharmonisan dalam pengelolaan kepariwisataan. Sarjana kepariwisataan semestinya bisa menjadi teladan dalam membangun industri pariwisata yang tetap ramah pada lingkungan dan manusia sebagai pendukung pengembangan industri kepariwisataan itu sendiri.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.