Ilustrasi. (BP/dokumen Swara Tunaiku)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Industri kosmetik berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tumbuh pesat di Bali. Sayangnya, pertumbuhan industri ini tidak dibarengi dengan eksistensi produk di pasar lokal maupun luar.

Untuk itu, Deputi bidang pengawasan obat tradisional, suplemen kesehatan dan kosmetik, BBPOM Pusat, Dra. Mayagustina Andarini, Apt, M.Sc mengutarakan perlu dikembangkan produk kecantikan tematik atau berbahan baku khas milik daerah serta mengangkat warisan budaya nusantara. Ia menilai nama Bali juga sudah dikenal di Indonesia dan dunia Internasional sehingga kesempatan dalam mengembangkan produk kosmetik tematik dari UMKM ini sangat besar terutama jika dikembangkan ke pasar domestik maupun ekspor.

Ia mengemukakan Bali termasuk provinsi yang pertumbuhan kosmetik tematiknya, khususnya dari UMKM paling cepat. Sayangnya, meski produknya berkembang pesat dan kualitasnya baik namun pasarannya masih terbatas.

Padahal bila produk kosmetik dari UMKM ini bisa menguasai pasar dalam negeri saja, sudah sangat luar biasa karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia. “Menguasai pasar dalam negeri saja sudah sangat bagus. Apalagi ekspor. Karena itu jangan sampai pasar domestik dikuasai asing. Dan agar bisa bersaing dengan kosmetik brand internasional yang sudah terkenal, pengembangan kosmetik tematik adalah salah satu caranya,” jelas Andarini.

Baca juga:  Warga dari 10 Subak Lakukan Perang Tipat di Pura Masceti Desa Sayan

Dikatakannya, kosmetik di Indonesia sebagian besar diproduksi oleh UMKM tetapi belum berkembang secara optimal seperti di negara lain. Masih belum berkembangnya kosmetik produk UMKM ini karena berbagai permasalahan seperti perizinan, permodalan, bahan baku, produksi, inovasi, pemasaran, SDM termasuk managerial. “Kami berupaya mendorong UMKM ini untuk lebih cepat tumbuh karena kami melihat potensi besar yang bisa digarap. Selama ini banyak kosmetik ilegal yang diselundupkan ke Indonesia dimana temuan terakhir dari Rp 164 miliar barang ilegal, Rp 128 miliar itu kosmetik,” ujar Andarini.

Terkait persoalan yang dihadapi UMKM yaitu kesulitan dalam uji laboratorium yang harus dilakukan di luar Bali dengan biaya mencapai Rp 7 juta lebih, dikatakan Andarini akan dicarikan solusi. Salah satunya dengan bekerjasama dengan Universitas yang ada di Bali. Selain itu pihaknya juga meminta pada Kementerian Perindustrian untuk membuat sebuah lab di sentra-sentra industri yang bisa digunakan UMKM dengan biaya yang lebih murah. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.