Saat tawur tabuh gentuh dipersembahkan beberapa tarian sakral di Jaba Pisan Pura Dalem Desa Karangasem. (BP/ist)

Oleh I Gusti Agung Gede Artanegara

Singgah, menikmati daerah subur dengan adat budayanya yang kental serta kearifan hakiki. Bedulu merupakan tempat lahirnya Raja Airlangga seorang pemimpin di tanah Jawi, dimana silsilahnya merupakan keturunan dari Wangsa Warmadewa. Di sudut itu saya membaca tulisan saya yang termuat di koran Bali Post 19/09/2019 dan di sebelah saya seorang pemuda, Suparnata (samaran) mengatakan dengan tegas dan jelas, “nah, pang kene maré démén, pang sing ngawag-ngawag” (Ya, seperti ini baru saya senang, biar tidak ngawur).

Sambil memperhatikan tulisan besar pada headline Bali Post bertuliskan “Gubernur Koster Larang Tari Sakral untuk Pecahkan MURI”. Seakan menyetujui bahwa tarian sakral Bali janganlah dijadikan konsumsi publik yang notabene-nya sebagai ajang gagah-gagahan atas dasar promosi, prestasi dan apalah itu namanya.

Dalam ruang pariwisata dan budaya khususnya di Bali, seni merupakan kreasi dari cipta dan rasa. Seni Budaya Bali adalah epitome keindahan dan persembahan agung, tidak heran dalam tiap nafas dan denyut budaya Bali berpusat kepada Sang Pencipta. Tidak heran, jika Warisan Budaya Bali yang telah diwariskan dari generasi ke generasi masih tetap lestari dan ajeg.

Datangnya seniman Walter Spies memberikan perspektif baru terkait tarian Bali, dengan Wayan Limbak mereka berdua menggubah tarian dengan mengambil beberapa unsur dari tarian sakral sanghyang menjadi tarian yang dapat menghibur dan dipertontonkan yang dikenal dengan tari Kecak. Tarian ini pun menjadi mendunia sehingga mampu menarik wisatawan untuk datang ke Bali yang tentunya akan memberikan dampak kesejahteraan masyarakat.

Terhitung 2 Desember 2015, sembilan tari Bali ditetapkan UNESCO yang dimana didalamnya terdapat tiga tarian sacral, Tari Rejang, Tari Shanghyang Dadari, dan Tari Bari Upacara. Dengan diakuinya ini menjadi tugas berat Bali dalam tetap mempertahankan warisan budaya ini yang telah dari generasi ke generasi meneruskan tradisi ini.

Seperti yang kita ketahui bahwa tari Bali terdiri dari tiga golongan: 1. Tari Wali yang dimana pementasannya dilakukan sejalan dengan upacara Yadnya, dimana tarian ini mengandung simbolis religius yang berkaitan dengan upacara Yadnya; 2. Tari Bebalian yang dimana pementasannya sebagai SARA pangiring dalam rangkaian upacara Yadnya, tarian ini mengandung unsur cerita yang disesuaikan dengan upacara yang sedang berlangsung; 3. Tari Balih-Balihan merupakan tarian hiburan yang tetap dengan pakem seni tari Bali.

Terbitnya era digitalisasi, sebenarnya sangat baik jika pemanfaatannya digunakan dengan bijak. Seringkali yang terjadi para pejabat mengucapkan tentang era digitalisasi 4.0, tetapi cara menyikapinya masih jauh dari era tersebut. Lalu apakah teknologi bermasalah?, ataukah teknologi saat ini tidak berkorelasi dengan budaya setempat yang memang asal muasal terciptanya teknologi saat ini berasal dari belahan dunia barat?

Baca juga:  Tari Sakral Tak Boleh Dipentaskan Sembarangan

Bukankah dokumentasi budaya itu penting, budaya yang bersifat dinamis menjadikan dokumentasi menjadi medium dalam sarana pelestariannya. Bagaimana jika Bali tanpa teknologi, apakah Bali menjadi pulau terisolir ataukah Bali menjadi pulau Sentinel. Nyatanya, Bali  begitu mudah menerima seakan tidak memiliki firewall.

Budaya asing masuk secara legal lalu menjadi kuda troya yang ketika diterima maka menghancurkan budaya setempat dan digantikan dengan budaya baru. Gelombang logika mengatakan itu salah, tapi kembali diam, terlalu banyak orang pintar yang memilih diam dan berharap Hyang Widhi yang mengambil alih semua.

Dalam ruang manusia terdapat teknologi yang membuat manusia kini menjadi modern, jika internet menjadi kebutuhan manusia maka teknologi adalah ekspektasi. Perkawinan internet dan teknologi melahirkan peluang dan tantangan yang tentu menarik tetapi itu bisa berubah menjadi malapetaka.

Dalam determinisme teknologi menyatakan, bahwa teknologi menjadi kunci penting dalam kekuatan menguasai serta mengendalikan masyarakat, dan hal ini membawa perubahan sosial yang ada dikalangan masyarakat yang terus berubah-ubah dikendalikan oleh inovasi teknologi. Populer menjadi mudah tetapi sulit, tentu saja jika menginginkan populer maka yang harus dilakukan adalah menjadi viral.

Informasi yang tersebar di media sosial memang lebih cepat daripada media mainstream, tetapi walaupun begitu kita mesti cukup cerdas dan bijak karena kebanyakan informasi tersebut adalah informasi kardus. saat ini, apapun bisa menjadi viral, fenomena viral bisa menjadi sembilu yang berguna tapi juga mampu menyayat dan membunuh.

Seni, Budaya dan Alam Bali mau dirubah agar memenuhi kebutuhan nafsu bagi pemilik kepentingan dengan opini ekonomi sosial maju serta harapan menjadikan masyarakat Bali lebih sejahtera. Berbagai sindiran serta penolakan muncul tetapi itu semua laksana tetes air hujan di atas daun talas, tetapi dengan adanya Keputusan Bersama Pemerintah Provinsi Bali (17/9) diharapkan mampu melindungi tarian sakral Bali dari upaya komersialisasi.

Niat baik ingin melestarikan seni dan budaya Bali dengan cara mendokumentasikannya itu penting, tetapi menjadikan tarian sebagai objek pemuas media sosial itu yang mesti kita batasi, jangan sampai niat baik ingin melestarikan malah melunturkan seni dan memerosotkan nilai kesakralannya, karena kembali lagi semua proses tradisi tersebut dipersembahkan kepada-Nya.

Penulis, pengamat Teknologi dan Budaya

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.