Ratusan tentara berbaris. (BP/dok)

Membantu mempertahankan negara, bagi kita sudah ditanamkan sejak Sekolah Dasar, sejak anak-anak didik kita belajar bernyanyi. Jika dilihat dari lagu-lagu perjuangan, entah itu ‘’Dari Sabang Sampai Merauke, Maju Tak Gentar, Halo-halo Bandung’’, dan sebagainya merupakan warisan sangat berharga dari pendahulu kita bagi generasi-generasi berikut untuk membela eksistensi dan kekuatan tanah air Indonesia.

Tidak ada cara yang lebih baik untuk menanamkan bela negara tersebut kecuali dengan lagu-lagu yang diperkenalkan kepada anak didik kita. Dalam sistem formal ketatanegaraan dunia, tentara mempunyai tugas untuk mempertahankan negara jika ada gangguan-gangguan dari negara luar.

Karena itulah, setiap negara mempunyai pos penjagaan di perbatasan negara. Sebagian ketat tetapi sebagian juga ada yang longgar. Negara yang hidup berdampingan secara damai bertahun-tahun, mungkin memberikan sedikit kelonggaran dalam urusan pos jaga perbatasan ini.

Tetapi tidak untuk negara yang benar-benar tegang dan bermusuhan. India dan Pakistan merupakan dua negara yang perbatasannya sangat tegang sehingga perbatasan kedua negara dijaga sangat ketat.

Akan tetapi, pada era kemajuan teknologi sekarang, ancaman terhadap keberadaan negara itu, luar biasa ragamnya. Sekali lagi, luar biasa. Dikatakan demikian karena bukan hanya aneksasi, serangan atau serbuan yang dapat menaklukkan negara tetapi juga hal lain. Negara bisa takluk juga, jika berupaya diganggu dari dalam, melalui gaya dan kebudayaan tertentu.

Negara luar secara mudah memengaruhi mental dan perilaku penduduk suatu negara dengan menyebarkannya melalui media sosial. Dulu, internet dipakai untuk menyebarkan serangan kepada negara musuh. Kini dapat dilakukan melalui media sosial, sebuah media yang hanya dalam genggaman tangan.

Manusia dapat membaca apa yang dikirim melalui ponsel itu sambil tiduran. Melalui media tersebut, gangguan kepada negara itu dapat dilakukan dengan cara menyebarkan kabar bohong, gambar rekayasa yang memang tidak ada sesungguhnya.

Baca juga:  Jawab Tantangan Zaman, Jokowi Ajak Generasi Muda Kedepankan Idealisme

Juga dapat dilakukan dengan lagu-lagu, bahkan juga dengan ajaran-ajaran sesat, entah berlatar agama atau gaya hidup. Dalam konteks itulah kemudian kita berpandangan lagu-lagu yang diajarkan di Sekolah Dasar tersebut mampu memberikan pesan yang lebih baik kepada kita karena telah tertanam dan tersosialisasi sejak masa anak-anak.

Dengan mengeksplorasi makna dari lagu tersebut, kita tanamkan lagi, reka ulang lagi tentang kewajiban warga untuk membela negara. Bahwa tentara bukan merupakan pihak yang satu-satunya mempertahankan negara, itu sudah jelas.

Tetapi dengan mengeksplorasi lagu-lagu tersebut, maka semakin yakinlah warga kita untuk dapat langsung membela negara melalui cara-caranya yang dilakukan sendiri. Eksplorasi makna itu dapat dilakukan sejak Sekolah Dasar dan berlanjut ke  tingkat pendidikan pada jenjang berikutnya, semisal SMP dan SMA, bahkan perguruan tinggi.

Para guru mesti memberikan tugas mengembangkan pemikiran apa makna dari satu syair lagu tersebut, bagi pertahanan Indonesia dan kemudian menyuruh peserta didik untuk mempresentasikannya. Berbagai cara kini telah dilakukan negara-negara di dunia untuk mempertahankan diri dari ancaman negara lain.

Kemakmuran dan prestasi olahraga juga merupakan salah satu cara untuk mempertahankan diri. Bahkan secara politis dengan membuat aliansi atau persekutuan dengan negara-negara lain.

Negara yang makmur, akan membuat negara lain ketakutan untuk mengganggu karena rakyatnya cerdas. Prestasi olahraga membuat masyarakat bangga dan meningkatkan rasa nasionalis.

Negara yang nasionalisnya tinggi, pasti akan mempunyai daya bela negara yang besar dari rakyat. Dan negara-negara yang mempunyai keterikatan organisasi dengan negara-negara lain, biasanya mencantumkan klausul, satu negara diserang berarti seluruh anggota organisasi juga diserang.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.