Almarhum Ketut Wirata Sindhu saat masih dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bupati Buleleng periode 1993-2002, Ketut Wirata Sindhu, berpulang, Senin (7/10). Almarhum masuk RSUP Sanglah pada 23 September lalu, kemudian dibolehkan pulang oleh dokter pada 4 Oktober. Sejak Senin pagi, kondisi almarhum terus menurun dan tidak mau makan. Pukul 13.28 Wita, perintis Universitas Ngurah Rai (UNR) ini meninggal pada usia 77 tahun.

Anak ketiga almarhum, Dr. Nyoman Diah Utari Dewi, menuturkan, pascaoperasi kanker usus 4 tahun lalu, kondisi almarhum semakin memburuk. Sejak saat itu, ayahnya kerap bolak-balik masuk rumah sakit. Meski sakit, almarhum tetap rajin datang ke kampus untuk membina dan memberikan motivasi.

“Bapak senangnya di kampus. Semangatnya jadi tersalurkan di kampus. Setiap membicarakan tentang kampus dan politik, langsung semangat. Kalau tidak salah, tiga hari yang lalu ada akreditasi kampus, sangat senang beliau melihat kemajuan kampusnya,” kenangnya.

Almarhum senang ke kampus karena di kampuslah, kompetensi dan keahliannya tersalurkan. “Padahal dokter sudah memvonis, tapi karena enjoy melakukannya, beliau sangat bersemangat ke kampus dan bercerita tentang kampus,” ujarnya di Rumah Duka Kerta Semadhi, Jalan Cargo Permai, Ubung Kaja, Denpasar.

Pihak keluarga besar masih berembuk untuk menentukan prosesi pemakaman atau pengabenan almarhum. Sebab, pada saat yang bersamaan, keluarga besar almarhum juga sedang menggelar upacara pernikahan keponakan almarhum. Namun, dari pesan almarhum, upacara kremasi agar dilakukan di krematorium.

Baca juga:  Pembangunan Politeknik KP Dilanjutkan

Almarhum meninggalkan seorang istri, Ni Luh Nyoman Masmi, 4 orang anak dan 3 cucu. Keempat anaknya yaitu Putu Umbara Sugiantara, Made Dwining Ratna Sari, Nyoman Diah Utari Dewi, dan Ketut Manggala Putra.

Wirata Sindhu yang juga aktif sebagai penasihat di Partai Golkar, sempat menempuh pendidikan di Brawijaya, Malang. Almarhum mengawali kariernya sebagai Kakanwil Penerangan Kabupaten Badung sekitar tahun 1975 selama sembilan tahun. Jabatannya meningkat menjadi Kakanwil Penerangan Provinsi Bali juga selama sembilan tahun. Dia kemudian menjadi bupati di tanah kelahirannya, Buleleng, selama sembilan tahun pula.

Mantan pejabat asal Banjar Tengah, Desa Banyuatis, Kecamatan Banjar, Buleleng, ini juga mendirikan Universitas Ngurah Rai (UNR) Denpasar sekitar tahun 1979. UNR menjadi universitas tertua kedua di Bali bahkan di wilayah Kopertis Wilayah VIII (Bali, NTB, NTT).

Ditemui di Kerta Semadi Kargo, Rektor UNR Dr.Drs. Nyoman Sura Adi Tanaya, M.Si., mengungkapkan perjuangannya bersama almarhum mendirikan kampus. Nama almarhum akan diabadikan menjadi nama ruangan atau auditorium kampus. “Tanpa beliau kami tidak punya apa–apa. Saya dan seluruh dosen merasa kehilangan karena beliau tidak pernah marah, sikapnya selalu mengajarkan, dan memotivasi,” tuturnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.