Sejumlah anggota Idola Parisuda bertemu untuk membahas soal pariwisata Bali. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pariwisata dan pertanian, dua sisi yang selalu dibenturkan dalam perkembangan sektor pariwisata Bali. Pariwisata dituding ‘’memakan’’ pertanian karena memicu alih fungsi lahan.

Hilangnya pertanian yang berarti lenyapnya budaya agraris ditakutkan akan mematikan pariwisata Bali. Jika pemerintah jeli, keduanya sangat mungkin bersinergi, saling menghidupi.

‘’Selalu saja orang mengatakan antara pariwisata dan pertanian saling menjegal, malah ada yang menyebutkan kanibal. Padahal kalau kita kelola dengan baik, pertanian dan pariwisata itu saling menguntungkan, saling membantu sepanjang hasil pertanian yang diproduksi oleh petani kita betul–betul bisa menunjang kegiatan pariwisata,’’ beber Dr. I Made Sudjana, S.E., M.M., CHT., CHA., satu dari tujuh anggota Ikatan Alumni Doktor Pariwisata Universitas Udayana (Idola Parisuda), beberapa waktu lalu.

Hasil produksi pertanian, kata Sudjana, harus berkualitas dan sesuai kebutuhan hotel dan restoran agar dapat terserap. Maka yang harus dilakukan terutama oleh pemda adalah menguatkan pertanian itu dengan melakukan riset, penelitian. “Mestinya pemda menyiapkan anggaran yang cukup besar untuk anggaran penelitian di bidang pertanian. Dengan adanya riset–riset penelitian, maka kita akan bisa menghasilkan produksi pertanian yang memang betul–betul sesuai yang dibutuhkan pariwisata,” ujarnya.

Dari sisi pertanian dan pelestarian kawasan hulu, Sudjana mengatakan, pelestarian air dapat dimulai dari hulu. Menurutnya, air dari hulu agar dibiarkan mengalir mengairi sawah–sawah petani.

Air yang terserap oleh sawah, sisanya akan mengalir ke hilir. Air di hilir inilah hendaknya ditangkap oleh lembaga yang mengelola air seperti PDAM.

Baca juga:  Pria Paruh Baya Hilang

Kuliner dan Budaya

Tidak hanya pariwisata dan air yang penting, kuliner juga memegang peranan penting dalam pariwisata. Dr. Ni Komang Nariani yang menekuni kuliner pariwisata mengatakan, kuliner lokal merupakan salah satu warisan budaya Bali yang harus dipertahankan.

Karena saat ini kuliner bukan saja hanya menjadi kebutuhan primer, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Wisatawan yang datang ke Bali yang mencari pengalaman, sudah mulai mempelajari masakan Bali termasuk bahan–bahan yang digunakan. “Bahkan wisatawan diajak ke pasar untuk mengenal bahan-bahan yang akan dimasak,” ungkapnya.

Di Ubud sangat terkenal dengan cooking class. Menurut wisatawan, makanan Bali atau kuliner lokal kurang dipromosikan. Maka ke depan, Bali mesti memiliki branding, bahwa kuliner Bali itu adalah salah satu yang harus dipromosikan, dipertahankan dan dikembangkan, sehingga menjadi kuliner lokal yang berkelanjutan.

Dr. Franciska Titing Koerniawaty, S.Pd., M.Pd., doktor pariwisata yang mengupas soal budaya, mengatakan budaya–budaya yang sudah dimiliki Bali sangat unik. Menurutnya, ini bisa menjadi model/percontohan bagi wilayah Indonesia yang lain. “Bali agar tetap dijaga. Pemerintah dan masyarakat bersinergi melaksanakan pemeliharaan budaya Bali, sehingga masyarakat akan merasakan secara ekonomi,” bebernya.

Dr. Panudiana Kuhn yang meneliti tentang golf mengatakan, sejak Program Doktor Pariwisata dibuka tahun 2010, telah ada 37 doktor pariwisata yang dilahirkan Unud. Dengan tema disertasi yang berbeda–beda, ke-37 doktor ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pemerintah, baik sebagai narasumber maupun konsultan untuk kemajuan pariwisata Bali. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.