Gubernur Bali bertemu mahasiswa dan rektor perguruan tinggi se-Bali. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali Wayan Koster untuk pertama kali bertemu dengan mahasiswa, dosen, dan rektor perguruan tinggi di Bali dalam wadah simakrama di Jayasabha, Denpasar, Rabu (2/10). Koster utamanya menyampaikan tentang arah Bali ke depan, bagaimana semestinya menempatkan Pulau Dewata dalam skala lokal, nasional, dan global.

“Secara lokal, kita menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam berbagai bidang. Lebih-lebih kalau kita kaitkan dengan posisi Bali sebagai destinasi wisata dunia, sangat sensitif,” ujar mantan Anggota DPR RI ini.

Menurut Koster, pendapatan masyarakat 68 persen bergantung dari penyelenggaraan kepariwisataan. Baik yang bersentuhan langsung, maupun ikutannya. Kemudian 14 persen lebih dari pertanian, dan sisanya dari sektor sekunder.

Dari total 20 juta target wisatawan mancanegara di tingkat nasional, sebanyak 35-40 persen ditarget ke Bali atau sekitar 7-8 juta. Sedangkan kunjungan wisatawan domestik ditarget sekitar 9-10 juta tahun ini.

Melihat betapa besarnya ketergantungan Bali terhadap sektor pariwisata, begitu “goyang” maka akan langsung berpengaruh ke masyarakat termasuk petani. “Karena pedagang buah, pedagang sayur-sayuran, pedagang daging, beras dan sebagainya langsung bisa drop jualannya kalau wisatawan menurun yang berkunjung ke Bali,” jelasnya.

Koster menambahkan, Bali sekarang tidak dalam kondisi yang amat baik. Namun sudah dalam kondisi lampu kuning, karena ada hal-hal yang sangat riskan dan sangat berbahaya. Kalau terlambat menata, Bali akan menghadapi masalah besar.

Belum lagi, sebagai bagian dari NKRI, bangsa ini tengah menghadapi masalah terkait ideologi Pancasila. “Jangan sampai ada ruang sedikitpun yang menembus kehidupan kita di Bali, yang membuka ruang munculnya ideologi lain di luar Pancasila. Kita harus kokoh menjaga ideologi Pancasila,” tegasnya.

Oleh karena itu, Koster mengajak para rektor di perguruan tinggi negeri dan swasta serta mahasiswa untuk bersama-sama menjalankan spirit ini demi Bali dan kesejahteraan masyarakat. Termasuk keberlanjutan eksistensi tata kehidupan adat istiadat, tradisi, seni dan budaya Bali.

Baca juga:  Tingkatkan Kualitas dan Berkelanjutan, Pariwisata Budaya Dideklarasikan

Di sisi lain, gubernur asal Sembiran, Buleleng ini mengaku sangat menghormati dinamika pergerakan kemahasiswaan di Bali. Apalagi, ia dulu pernah menjadi mahasiswa bahkan aktivis dan ikut dalam pergerakan saat berkuliah di ITB. “Saya berterimakasih mahasiswa sudah menyampaikan aspirasi ke DPRD, kemudian Bajra Sandhi yang saya ikuti berjalan dengan baik. Ramai-ramai sedikit tidak apa-apa, namanya mahasiswa,” imbuhnya.

Koster juga menyampaikan maaf lantaran tidak sempat hadir menerima mahasiswa. Akan tetapi, pihaknya sudah menangkap dan menerima pesan yang disampaikan.

Apa yang disampaikan mahasiswa tersebut bahkan diharapkan bisa menjadi panduan dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Bali maupun nasional. Ia sendiri membutuhkan adanya masukan.

Tapi sekaligus mengingatkan agar cerdas dan cermat berkaitan dengan empat pilar kebangsaan. Mulai dari NKRI yang jangan sampai ditawar lagi, kemudian ideologi tetap harus sama yakni Pancasila, serta harus dalam UUD 1945 dengan Bhineka Tunggal Ika.

Keempat pilar ini harus dijalankan dengan komitmen dan semangat tegak lurus kepada Indonesia. Kalau perlu, aksi turun ke jalan agar menjadi pilihan terakhir. Lebih baik disampaikan melalui dialog dengan ilmu pengetahuan dan tata krama yang dimiliki. Kalaupun tetap harus turun ke jalan, agar dilakukan dengan tertib dan tidak sampai memaki-maki orang.

“Saya tidak alergi, karena saya pernah bergelut di dunia kemahasiswaan. Saya senang, tapi agar mematuhi koridor hukum, kesantunan, dan kepentingan publik. Astungkara kemarin tidak ada yang terlalu parah seperti di daerah lainnya,” terangnya.

Presiden BEM PM Universitas Udayana, Javents Lumbantobing mengatakan, gubernur tidak perlu meragukan BEM se-Bali karena semuanya nasionalis dan memegang teguh NKRI. Selain itu, tidak ada paham-paham di luar Pancasila yang masuk ke dalam BEM. “Saya menjamin hal itu dan saya berani bertanggung jawab atas apa yang saya ucapkan tersebut,” ujarnya. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.